Malam ini obrolan kita datar. Mengulang apa yang malam kemarin sempat kita utarakan. Tak ada kata "I miss You" atau "Aku kangen kamu" meluncur dibibirmu. Aku curiga, kau mulai bosan dengan hubungan singkat ini. Jika ya, apa yang menjadi kekhawatiran tak berdasarku akan mewujud diakhir kalimat "Selamat malam" yang kau utarakan diujung telepon malam ini.
Jika ya, aku sudah siap. Siap menghadapi kemungkinan terburuk, apapun itu. Karena entah kenapa, sedari awal mengenalmu, hatiku seolah telah disiapkan untuk patah dan mengeping lagi seperti sebelumnya. Jadi tak usahlah merasa tak enak. Aku dipersiapkan memang untuk tujuan itu.
Anggap saja setiap percakapan kita selama ini, sebagai percakapan imajiner yang tak menyentuh bumi sedikitpun. Aku rela.
Lalu malam-malammu yang kau habiskan denganku, anggap saja sebuah ilusi yang hampir mirip dengan realita. Jalani hidupmu kembali, melakukan rutinitas 5-3 tanpa harus repot-repot mengingatkan aku untuk sembahyang atau makan lagi.
Sebelum ini, toh semua memang sudah baik-baik saja bukan?
Tapi, izinkan untuk yang kesekian kalinya, meminjam namamu untuk kusebut dalam doa-doaku.
Terakhir, izinkan bibir ini mengucap "I miss you".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar