Terkadang, se-adiktif apapun sebuah cerita, ia akan membosankan jika diulang terus menerus.
Sudah ratusan judul buku aku baca. Fiksi, non-fiksi, ilmiah dan non-ilmiah. Beratus genre pula aku lahap. Dari kisah cinta Siti Nurbaya hingga Dilan dan Milea aku telan semua. Dari Sains hingga Agama. Stephen Hawking, Richard Dawkins hingga Ibn Rusyd aku kenal baik dengan buku-buku mereka. Di Indonesia, aku membaca Tan Malaka, Soekarno hingga yang terbaru Martin Suryajaya. Semua tulisan mereka adiktif sekaligus menyegarkan. Namun jika berulang kubaca, tetap saja menjemukan.
Berbeda dengan percakapan kita, meski berisi pertanyaan usang, namun aku tak henti membacanya lagi dan lagi. Isinya sederhana. Tak ada teori-teori besar seperti buku What's to be done karya Lenin atau Das Kapital karya Marx. Tak ada pula fakta ilmiah seperti buku Dale Carnegie atau Sigmund Freud dalam percakapan kita. Atau bahkan tak ada rima-rima susastra seperti puisi Rumi dan Goethe. Diksinya sederhana, tak seperti buku Ernest Hemingway atau Osamu Dazai yang kadang berbelit-belit walau menceritakan hal sederhana.
"Hai, apa kabar?", "Lagi ngapain?" Selamat tidur". Hanya kalimat-kalimat sederhana itu yang sering muncul dilayar Handphone-ku setiap hari. Namun membacanya bak Morphin bagiku. Kata-katamu biasa saja, hanya saja bagiku seperti serum penetral kebosanan yang menghujam tepat diatas pundakku. Dan aku tak kuasa menahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar