Senin, 05 Maret 2018

Pada senja diawal bulan Maret

Matahari sudah menuju tempat lain, sinarnya tak terlalu mentereng lagi. Angin dari timur mulai bernyanyi silih berganti menabuh dedaunan disekitaran kami.
Aku duduk disebelahmu, kau yang tak jemu membuatmu malu dengan mata coklatmu yang sayup. Dan air mukaku yang mulai memerah tak keruan dibuatnya.
Beberapa kalimat mulai terlontar dibibirmu. Silih bergantian kita menjawab pertanyaan satu sama lain.
Bibirku menjawab pertanyaanmu. Namun pikiranku melayang pada sebuah ingatan. Ingatan dimana kau dan aku pertama kali bertemu di bale-bale ini. Dari senyum merekahmu dihari itulah aku mulai merasa kita memang ditakdirkan harus bertemu.

Hari itu kau nampak anggun dengan jilbab warna birumu. Mukamu yang bulat, berpacu dengan pipimu yang pepat. Rasanya ingin aku mencubit salah satu dari mereka, saking gemasnya aku melihatmu tertawa dihadapanku. Waktu kita tak banyak di bale-bale ini, magrib memburu langit senja pertanda kita harus kembali pada rutinitas masing-masing. Sebentar, namun berkesan. Tak banyak kata yang terlontar dari bibirku sore itu, namun mataku menceritakan semuanya. Dan kau tau itu. Aku, bahagia bisa bersanding disisimu walau dalam hitungan menit saja. Kalau saja aku bisa hidup seribu tahun, akan kuhabiskan semuanya hanya denganmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadhan Yang Perlu Diingat