Cinta, tanpa terkadang, memang rumit adanya. Ia tak bisa diselesaikan hanya oleh teori-teori semata. Pengalaman empiris yang susah dijelaskan jika hanya oleh logika.
Bukan sedikit orang yang gila dibuatnya. Sejarah sudah lama berbicara.
Cinta itu juga abstrak. Ia tak terlihat, namun bisa dirasa. Persis seperti kentut.
Banyak kisah absurd dibalik kata ini. Dari kisah Romeo-Juliet, Siti Nurbaya-Syamsul Bachri, Rama-Sinta, Jack-Rose dll. Kesemuanya adalah kisah yang sering orang sebut "cinta". Namun ketika diminta mendefinisikannya, tak banyak orang yang tahu atau bahkan tak mau peduli. Dengan entengnya mereka bilang "ada atau tidak ada definisi tentang cinta, ia tetap indah dirasa".
Ya memang terkadang seperti itu adanya. Namun tak semua kasus berakhir seperti itu.
Aku berkali-kali lebur tak berbekas oleh apa yang sering orang sebut cinta. Dari banyak kasus yang aku alami, semunya bermuara pada satu hal; Cinta itu Absurd dan harus kukatakan bahwa Cinta itu omong kosong yang sering dijadikan legitimasi untuk nafsu-nafsu sesaat agar langgeng adanya.
Berkali-kali aku jatuh karenanya lalu mencoba menyembuhkan meski butuh waktu lama. Dan bodohnya, aku tak pernah sadar bahwa aku sedang terperangkap dalam jebakan yang sama meski dengan objek yang berbeda.
Dulu, ketika masih belum tumbuh bulu-bulu halus ku, aku pernah menjalin apa yang sering orang sebut cinta dengan seorang gadis jelita. Jujur saja, dia cantik, matanya selalu membuatku terbius jika melihatnya. Kami menjalin hubungan cukup lama. Bertahun-tahun tepatnya. Tapi karena perbedaan pendapat yang jika aku pikir hari ini, semuanya masih bisa di selesaikan dengan mudah, kami berakhir. Aku yang tetap menyendiri, sambil sedikit demi sedikit membiasakan diri menghapus semua ketergantunganku padanya. Ia yang menikah dengan pilihan orang tuanya. Miris memang, namun itulah pilihan paling logis.
Kasus lain, semuanya sama. Hanya beda pemeran saja. Dan akhir cerita yang sudah bisa ditebak. Namun lagi-lagi aku terbuai oleh jebakan itu. Nampak lebih bodoh dari keledai.
Hari ini, aku berada pada posisi yang sama. Namun belum terlalu jauh aku tersesat. Aku bisa kembali ke tempat asalku. Kembali membaca buku-buku tebal sambil merapal teori-teori berat dalam suntuknya kamarku seharian. Atau mengorganisir komunitas dan melakukan perlawanan-perlawanan kecil sebagai ibadah passion belaka. Atau bekerja seperti laiknya manusia normal lainnya dan pura-pura lupa pada apa itu cinta dan wanita. Atau kembali menenggelamkan diri dalam dunia musik yang dulu sempat aku geluti; mengorganisir sebuah gig, membuat album, mencipta lagu lalu dinyanyikan di moshpit bersama. Atau menjauh dari hiruk-pikuk dunia, lalu menceburkan diri mempelajari agama seperti biksu taat dalam kelenteng dan tentu saja pura-pura lupa apa yang sudah dilakukan cinta padaku selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar