Jumat, 16 September 2016

MEMBACA BUKU DAN KESUNYIAN

MEMBACA BUKU

Siang itu saya bergegas menuju kantor pos untuk menjemput kiriman buku dari seorang teman di jogja. Ditengah terik matahari, mega yang menyeringai dan rasa penasaran akut saya berjalan dengan harapan buku yang saya pesan telah sampai dengan selamat. Karena sudah hampir 2 minggu buku pesanan saya itu tak jua datang. Siang itu sengaja saya memberanikan diri datang ke kantor pos. Namun kecewa alang-kepalang ternyata kantor pos tutup hari itu.
Dengan berjuta kecewa saya pulang dan tak sempat merapikan wajah yang kusut akibat perjalanan yang saya tempuh dari rumah ke kantor pos yang lumayan sangat jauh itu.
Beberapa minggu lalu saya memesan buku berjudul Aku, buku dan sepotong sajak cinta karya penulis favorit saya Muhidin M Dahlan. Besar harapan saya agar buku itu dapat langsung saya santap hari itu. Namun takdir berkata lain. Mungkin ada beberapa masalah teknis sehingga buku yang saya pesan belum sampai, saya ber-husnudzon saja.

Beberapa tahun lalu, saya sama sekali tak suka membaca. Walau banyak buku yang saya punya dan ada beberapa hadiah dari orang-orang tertentu. Namun membaca buku adalah hal yang sangat jarang saya lakukan waktu itu. Bukan hanya karena membaca adalah hal membosankan, juga karena hobi saya waktu itu masih lebih menyenangkan ketimbang membaca buku; bermain musik.
Namun perlahan ketika keadaan menyeret saya pada suatu kondisi dimana musik menjadi sangat membosankan dan kebutuhan terhadap informasi sangat mendesak sehingga saya terpaksa harus rajin membaca buku sebagai penghilang kebosanan, pelipur lara juga alasan berlawan.
Karena membaca adalah batu penjuru dari edukasi, dan edukasi adalah hal paling vital dalam aktivisme maka dari itu saya rela mengahabiskan waktu hanya untuk membaca.
Selain menghabiskan waktu, membaca buku juga kadang memiskinkan. Maklum lah saya hanya seorang buruh upahan yang penghasilannya untuk makanpun masih pas-pasan. Jadi saya harus rela membagi uang hasil kerjaan saya dengan ratusan kebutuhan lainnya. Menabungnya dengan harapan jika ada buku yang diinginkan nanti saya bisa langsung memesannya.
Juga ada alasan lain yang membuat saya jadi sedikit gemar membaca akhir-akhir ini.
Karena handphone yang saya punya waktu itu tak memungkinkan mengakses berbagai informasi dengan lancar, makanya saya hanya bisa mencari alternatif informasi dengan bentuk tulisan. Harus dimaklumi sekali lagi handphone saya tak bisa dengan cepat mengakses video dan berbagai audio visual lainnya sedangkan kebutuhan akan ilmu dan informasi membuat hasrat keingin-tahuan saya semakin tinggi. Jadi alternatif terbaik waktu itu hanyalah dengan membaca.
Akhirnya kecintaan saya terhadap membaca tumbuh sedikit demi sedikit seperti layaknya ABG yang baru jatuh cinta pada lawan jenisnya.

KESUNYIAN

Saya memang orang yang jarang bersosial dengan banyak orang. Menghabiskan banyak waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul tentang hal yang tak jelas membuat saya tak nyaman.
Maka dari itu saya memilih berjarak dengan khlayak agar terhindar dari sindrom-sindrom obrolan basa-basi yang tak jelas juntrungnya.
Saya lebih memilih mengahabiskan waktu sendirian dengan membaca buku atau artikel-artikel pendek sebagai pengisi waktu senggang.
Begitu pun di halmahera ini, sepulang dari bekerja saya lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku sendirian ditengah keheningan malam agar suasana hati kembali memancarkan rona dari keterasingan personal seperti lazimnya seorang jomblo lainnya.
Rasanya ada korelasi yang selaras antara kesunyian dan membaca buku. Dua hal tersebut sepertinya sudah ditakdirkan untuk tetap bertemu.
Bagi orang-orang yang menyandang penyakit kesepian akut seperti saya, membaca ditengah keheningan malam adalah hal yang paling membahagiakan ditengah-tengah dunia yang menyedihkan ini.
Saya rasa itulah alasan kenapa banyak dari para jomblo sejati seperti Tan Malaka dan William Sheakspear bisa membuat banyak buku; mereka lebih menyukai kesunyian dan membaca buku dariapada harus mengahabiskan waktu dengan lawan jenis yang tak ada gunanya.
Membaca ditengah malam sepulang bekerja memang bukan hal mudah, selain harus menahan rasa kantuk yang menggila diujung pelupuk mata juga waktu-waktu seperti itu sangat sulit saya dapatkan dimana kita harus berselaras dengan heningnya malam dan tetap berusaha fokus ditengah ingatan-ingatan tentang pekerjaan yang menuntut keseriusan esok harinya.
Tapi beruntunglah karena saya adalah orang yang sedikit dapat bertahan walau hanya beberapa jam dengan membaca buku ditengah heningnya malam seperti itu.
Hingga sekarang saya tak tahu akan berakhir sampai kapan hobi saya ini. Mungkin 2 sampai 3 tahun kedepan akan ada hobi baru yang menggerus hobi lama saya ini. Atau mungkin akan tetap bertahan walau sedikit demi sedikit harga buku sudah mulai melambung akhir-akhir ini dan saya akan segera mengakhirinya lalu mencari hobi yang sedikit murahan agar dapat tetap membunuh kebosanan dan memiliki passion ditengah dunia yang hiruk-pikuk ini. Entahlah . . . . Hanya Tuhan yang tahu.

Kamis, 15 September 2016

Bukan Resensi buku: Going Home-tambatan hati

Jika tidak salah saya sudah 2 kali membaca novel lawas ini dan tak pernah merasa bosan.
Awalnya hanya iseng pengisi waktu saja. Tapi setelah hanyut terbawa plot, ternyata buku setebal 409 halaman ini mampu membuat saya menangis dan tertawa sendiri.
Seperti semua novel Danielle Steel lainnya, Going Home bercerita tentang seorang wanita karir bernama Gillian Forester yang hidup menjanda bersama seorang anaknya bernama Samantha ditengah hiruk-pikuk kota New York yang liar dan gila.
Lika-liku asmara yang dibumbui dengan roman ala sastrawan perancis yang romantis namun dengan kemasan bahasa yang lugas dan mudah dicerna pembaca awam seperti saya membuat novel ini seakan membawa kita berada ditengah-tengah konflik yang dialami oleh si Gillian.
Alur ceritanya yang sedikit kompleks awalnya membuat saya merasa bosan.
Namun ditengah-tengah cerita yang mulai monotone tiba-tiba muncul sedikit dinamika yang menurut saya aneh namun malah semakin membuat novel ini tetap harus dibaca.
Pemetaan karakter yang terperikan lewat plot yang mudah ini lah Danielle Steel membuat saya jatuh cinta berkali-kali pada novel ini.
Kita bisa langsung tahu karakter seperti apa yang akan muncul mengisi alur ceritanya hanya dengan sekali membaca. Maklum lah saya adalah salah satu orang yang sering gagal fokus. Jadi novel ini cocok sekali untuk pembaca awam yang kurang suka membaca novel-novel serius seperti penulis novel fiksi zaman sekarang.
Dengan setting yang sederhana disebuah kota kecil di California dan beberapa tempat di New York semakin membuat novel ini wajib dibaca untuk kalian yang suka seri novela.
Namun saya sempat merasa kesal karena Gillian harus bertemu dengan pria brengsek seperti Chris Matthews dalam novel ini. Chris yang brengsek namun romantis dengan caranya sendiri digambarkan oleh Danielle lewat gestur yang berbeda dari novel-novelnya yang lain. Dia sukses membuat karakter Chris menjadi seorang tokoh protagonis dan antagonis secara bersamaan. Seperti malaikat-setan dalam satu tubuh.
Ada banyak kejadian tak terduga di dalamnya yang membuat saya lagi-lagi harus merasakan memungut tisue banyak-banyak. Untuk sebuah novel serapan bahasa asing, novel ini tak banyak menyajikan bahasa yang rumit. Tak ada metafor didalamnya untuk membuat kagum para pembaca. Alurnya juga cair mudah ditangkap oleh pembaca awam manapun, sehingga pantas buat saya mudah terhanyut oleh novel ini walau sudah berkali membacanya.
Rekomendasi sekali untuk kalian yang bosan dengan novel-novel kontemporer hari ini yang melulu hanya menceritakan roman ala remaja ingusan yang ujung ceritanya sudah dapat dipastikan.

Senin, 12 September 2016

Sajak untuk Surti

Sudah genap berbulan kita tak bersua.
Aku selalu ingin tahu apa kabarmu disana.
Aku juga selalu ingin tanyakan padamu bagaimana hari-harimu berjalan disana tanpaku.
Apa saja yang kamu lewati setiap hari dikantor tempatmu bekerja setiap hari.
Juga ingin kutanyakan buku apa yang sedang kamu baca akhir-akhir ini.
Dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lainnya dibenakku yang setiap hari menumpuk tak terjawab.
Seandainya Tuhan itu tak ada, inginku tanyakan  apa kabarmu disana?
Tapi aku tahu diri, Tuhan itu ada dan sedang mengawasi kita.
Sehingga alangkah lebih baik jika aku melipat setiap tanyaku rapi-rapi lalu kuselipkan di setiap doaku dalam sujudku kepada-Nya.

Kamu tahu apa saja doa yang sering aku panjatkan dalam setiap solatku untukmu Surti?
Asal kamu tahu, aku selalu meminta agar Dia menjagamu dimanapun, kapanpun dan dari apapun yang berbahaya bagimu.
Selalu memintakan untukmu keberkahan, kelancaran dan kemudahan dalam setiap langkahmu meniti jalan-Nya.
Nampaknya doaku terlalu berlebihan, tapi hanya itu yang aku punya.
Aku tak punya keberanian untuk sekedar menanyakan kabarmu di sosial media. Padahal kontakmu aku punya.
Sesekali akupun selalu melihat status-statusmu.
Dan berharap ada satu yang kau tulis untukku.
Tapi aku tak kecewa kalaupun itu tak ada, mungkin kau lebih suka menyebutku dalam doamu dari pada dalam statusmu. Aku ber-husnudzon saja.

Oh iya apa kabar bapak-ibumu Surti?
Kuharap mereka baik-baik saja.
Mereka juga selalu aku doakan seperti aku mendoakan ibu-bapakku, namun tak sesering seperti aku mendoakanmu, Surti.

Maafkan aku Surti, aku tak pandai bersajak.
Sehingga banyak dari rima-rima ini berhambur tak teratur.
Ini hanya rangkaian kalimat-kalimat yang kususun dari puing rinduku padamu.
Jadi sekali lagi maafkan aku Surti.

Aku hanya tak bisa melihat kanvas kosong dan pena yang berkarat.
Lalu ku gabungkan jadi satu sajak hingga tamat.
Agar apa? Agar kamu tahu bahwa disini, ditempat asing ini ada orang hina yang selalu membasahi bibirnya dengan doa-doa lirih untukmu. Ya hanya untukmu . . .

Kamu tak perlu membalas sajak ini, membacanya pun adalah karunia bagiku.
Bahwa selama ini, di diamku ada doa yang berirama untukmu.

Dibibir pantai Indonesia Timur, 2016

Senin, 05 September 2016

Sebuah catatan pendek tentang perjalanan menuju halmahera utara (1)

Hati saya terlalu sensitif mendengar kata perpisahan, mungkin karena sudah terlalu banyak saya kehilangan dan ditinggalkan . . .

Hari itu tanggal 23 agustus 2016 sengaja sejak pagi saya mulai mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa. Dari obat-obatan hingga pakaian dan buku tak lupa saya masukan ke dalam koper. Saya sengaja membiarkannya merayap begitu saja agar tak susah saya ingat. Karena memang waktu saya tinggal beberapa jam lagi di cipanas pagi itu. Sore harinya saya harus benar-benar berangkat menuju bandara dijakarta karena jadwal penerbangan malam itu dipercepat satu jam menjadi jam 23:01.
Dengan waktu yang sedikit sempit itu saya sempat bertemu beberapa karib guna beremeh-temeh dihadapan beberapa gelas minuman agar menjadi marka jika suatu hari nanti kita memang tak akan pernah bertemu lagi.
Berbincang-bincang ringan tentang hal apa saja yang akan dilakukan akhir tahun ini tanpa saya dan banyak lagi obrolan menggantung lainnya yang tak sempat rampung kami selesaikan sore itu.
Tepat pukul 16:31 ba'da solat ashar saya mengemasi barang yang akan dibawa dan sengaja beberapa karib mengantar saya menuju bis yang akan saya tumpangi ke jakarta.
Sempat beberapa menit saya berpamitan dengan orang tua saya untuk terakhir kali sore itu.
Sore terakhir saya dicipanas, memang berat rasanya harus meninggalkan cipanas lagi. Walau keadaannya jauh berbeda dari 2 tahun lalu dimana semuanya begitu abu-abu dari sore itu.
Tak lama bis yang saya tumpangi bergegas perlahan meninggalkan cipanas menuju jakarta.
Rasanya ada yang tertinggal disana, tapi entah apa saya pun tak pernah tahu dan tak ingin menjawabnya jika itu memang benar-benar pertanyaan yang harus dijawab.
Beberapa jam kemudian saya tiba di terminal kampung rambutan di daerah jakarta timur. Tak lama saya singgah, saya langsung mencari tumpangan menuju bandara karena waktu itu malam sudah mulai turun menggantikan sore.
Setelah terlibat percakapan alot dengan supir yang akan membawa saya ke bandara soal harga ongkos yang disepakati, akhirnya kami bersepakat dan segera menuju bandara setelah singgah beberapa menit di sebuah super market untuk membeli beberapa makanan ringan. Karena saya tahu dibandara harga makanan ringan tak akan semurah di super market diluar bandara.
Beberapa jam kemudian akhirnya saya sampai dibandara sebelum jam keberangkatan.
Setelah chek in dan mengurusi beberapa administrasi di terminal 2F, saya langsung bergegas menuju ruang tunggu bersama penumpang yang lain.
Rencananya pesawat yang akan saya tumpangi akan transit di makassar untuk beberapa jam.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:26 ketika saya berada diruang tunggu malam itu. Saya bersyukur perhitungan saya tak meleset, karena sebelum take off saya sudah berada dibandara sebelumnya.
Sambil menunggu kedatangan pesawat yang akan saya tumpangi saya sengaja memasang earphone ditelinga, memutar lagu Leaving on a jetplane-nya John Denver dan membaca novel karya John O'farrel yang berjudul The best a man can get agar sedikit rileks menghadapi perpisahan dengan jakarta malam itu.
Beberapa jam kemudian terdengar bunyi dari pengeras suara diruang tunggu menginformasikan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan sekian tujuan makassar-ternate akan segera berangkat.
Saya bergegas menutup buku yang sedang saya baca lalu masuk ke ruangan lain yang saya tak tahu namaya bersama dengan penumpang yang lain.
Beberapa saat setelah menunjukkan tiket dan berbagai tetek-bengek lainnya saya langsung menuju pesawat dengan hati yang gundah.
Dalam hati saya menggumam "akhirnya malam ini tiba juga, malam dimana semuanya harus dimulai dan berakhir bersamaan". Beberapa pramugari melemparkan senyuman sambil mengucapkan selamat datang pada kami yang baru masuk di pesawat. Segera setelah masuk pesawat saya mencari tempat duduk yang tertera sesuai di tiket saya. 10C, begitulah kira-kira tanda di tiket yang saya dapati pada tangan saya. Sambil mencari-cari tempat duduk itu saya mulai mematikan musik yang dari tadi saya ulang di lagu Leaving on a jetplane-nya John denver itu.
Ternyata tak sulit mencari tempat duduk berseri 10C itu. Saya langsung duduk setelah menemukannya dan mulai menaruh tas di atas kabin.
Sambil sesekali mengecek handphone, saya melihat ke luar jendela pesawat malam itu.
Ada semburat kekakuan yang tak bisa saya utarakan malam itu. Semuanya begitu bergegas malam itu. Rasanya sendu semakin berkelebatan di seisi kabin pesawat setelah pramugari menyuruh saya mematikan handphone karena pesawat akan segera mengudara sesegera mungkin malam itu.

Jauh sebelum malam itu, saya pernah berangan mempunyai pekerjaan diluar daerah yang jaraknya jauh dari rumah dan nanti ketika waktunya harus pulang kembali akan ada banyak orang yang menyambut saya dengan keriangan karena merasa kehilangan.
Pada akhirnya angan itu jadi nyata malam ini.
Setelah bertahun bertahan diluar daerah di Indonesia timur akhirnya saya pulang dengan membawa sekarung besar rindu yang disambut riang persis seperti apa yang saya bayangkan dulu. Dan memulainya lagi dengan perpisahan yang berakhir di bandara Soekarno-Hatta malam itu.
Saya merasa seperti seorang Gillian Forester yang harus meninggalkan Chris Matthews dari San Fransisco menuju New York dalam Novel Danielle Steel favorit saya malam itu. Begitu berat namun harus tetap dijalani dengan kepala tegap walau isi jantung begitu hancur amburadul seperti diremas-remas keras hingga otak jadi tak waras.

Rabu, 31 Agustus 2016

DI PENGHUJUNG AGUSTUS

Ini malam terakhir dibulan agustus. Saya sengaja membiarkannya terkesan merayap agar tak susah untuk saya ingat dihari depan nanti. Malam semakin larut, saya dan beberapa lembar buku yang dibiarkan berserakan begitu saja.
Sambil menahan kantuk sepulang beraktivitas saya selalu menyempatkan diri untuk setidaknya menulis beberapa hal tak penting seperti tulisan ini sebagai
pelipur lara juga sebagai ibadah passion saya jika suatu saat sindrom uring-uringan datang tiba-tiba.
Bulan ini bergegas begitu cepat. Hingga tak terasa semuanya berlalu begitu saja tanpa resistensi berarti akhir-akhir ini. Beberapa mimpi memang sempat terwujud dibulan ini. Namun ada pula mimpi yang tak perlu menemukan realisasinya dan terpaksa saya simpan rapi di rak-rak harapan berjejer dengan sengkarut argumen basi lainnya.
Saya sempat menghabiskan awal bulan ini di cipanas selama liburan beberapa waktu lalu. Mengunjungi beberapa kawan lama, bercerita tentang peta perjalanan dengan minuman baru dan tempat lama.
Tak banyak yang berubah dari cipanas, hanya beberapa tempat yang direnovasi dan seperti halnya destinasi wisata lainnya, cipanas semakin dipenuhi turis-domestik maupun asing
Bahkan di daerah tertentu malah saya dapati perubahan yang signifikan, menjamurnya toko-toko kebutuhan orang timur tengah, restoran-restoran dan banyak lagi arabisasi-arabisasi lainnya dicipanas baru-baru ini.
Saya tak ingin berkomentar lebih jauh perihal itu. Sudah menjadi rahasia umum jika cipanas memang surganya turis dari daerah timur tengah dan saya yakin beberapa tahun kedepan cipanas akan menjadi destinasi wisata paling ramah bagi turis asal timur tengah seperti halnya warung kaleng di cisarua sana. Lihat saja nanti !!
Setelah dua tahun lamanya saya tak pulang, banyak hal yang saya lewatkan dicipanas. Dari mulai scene yang agak meredup sampai band-band baru yang bermunculan bak jamur dimusim hujan-namun tetap dengan pemain-pemain lama.
Begitupun dengan kawan-kawan disana, semuanya tampak tak berubah. Dengan kebanalan rutinitas yang semakin hari makin menyebalkan saya tahu pasti kawan-kawan disana tak jauh berbeda dengan saya perihal aktivitas sehari-hari. Mencari nafkah demi terus menghidupi hidup dari pekerjaan yang sama menjemukannya disini.
Memang tak semua kawan disana bisa saya jumpai hanya dalam waktu singkat itu, ada beberapa kawan yang memang sangat sibuk sehingga kami hanya bisa berkabar via media sosial saja. Namun saya masih bersyukur kalian tetap dapat waras ditengah hiruk-pikuk dunia yang semakin gila ini.
Satu hal yang saya kagumi dari kalian adalah; kalian selalu tahu cara paling efektif untuk menjaga kewarasan ditengah segambreng problematika hidup dengan menikmati secangkir kopi hangat dimalam hari sambil bercerita tentang masa-masa dimana dulu kita pernah menjadi waras. Begitulah cara paling waras yang dulu sering kita lakukan untuk menjaga kewarasan.
Jujur saja saya sangat menikmati waktu singkat disana kemarin, walau ada beberapa hal yang sedikit membuat saya kecewa karena beberapa kawan sempat bersikap antipati terhadap perubahan yang saya alami selama ini.
Saya memang sudah memustuskan untuk berhenti di dunia musik sejak lama. Bukan hanya karena scene di cipanas yang sedikit monotone tapi lebih kepada pilihan personal yang melibatkan pengalaman personal pula. Ternyata setelah saya mendalami ilmu agama, musik memang bertolak belakang dengan agama yang saya anut. Sehingga pada akhirnya saya harus memilih satu diantaranya; melanjutkan bermain musik atau berusaha taat pada agama saya dengan konsekuensi yang sangat berat awalnya yaitu harus meninggalkan semua hingar-bingar dunia mosphit dan mulai mendalami agama. Bukan hanya itu, ada banyak sekali hal yang dulu sering saya lakukan ternyata kontradiktif dengan agama yang saya anut. Bermain musik, pacaran, merokok, minum khamr, nongkrong dan banyak hal lainnya. Walau dengan sedikit berat hati saya mulai meninggalkannya satu persatu sampai saat ini.
Tapi memang waktu cepat sekali berlalu. Sebulan lamanya tak terasa sehingga saya harus pulang kembali ke halmahera untuk beberapa tugas yang belum rampung saya buat totem.

Berteriak-teriak menyanyikan lagu tak karuan ditengah lautan manusia yang setengah mabuk menjadi ciri khas kita dimasa itu. Menghabiskan waktu hingga tengat malam dengan obrolan yang sebetulnya tak penting namun tetap intim adalah hal yang tak bisa saya dapatkan disini bersama kawan baru. Melakukan tour keliling kota tetangga dengan uang seadanya adalah hal yang sering saya rindukan sesekali. Patungan untuk mengganti simbal yang rusak akibat berdansa setengah mabuk menjadi hal yang membuat saya merasa bahagia jika mengingatnya hari-hari ini.
Namun semua itu kini hanya tinggal memori yang jika kita mau tinggal kita gali kembali setelah usang dimakan waktu berkali-kali.

Saya ingat beberapa hari setelah saya sampai dicipanas, saya dan beberapa kawan lama sengaja membuat janji untuk bertemu di sebuah tempat untuk sekedar menghabiskan waktu dengan bercerita dihadapan secangkir kopi hangat sebagai antitesa dari hiruk-pikuk kebanalan aktivitas kita selama ini.
Bercerita tentang semua hal yang dulu sering kita lakukan memang tak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Dari hal konyol seperti mabuk disiang bolong hingga yang paling tragis sekalipun seperti cerita tentang kepergian almarhum tebo yang mendadak menjadi pengiring dari perbincangan kita malam itu.
Ingatan tentang hari-hari waras itu memang tak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun, meski suatu hari nanti kita akan pikun dan mulai lupa akan satu sama lain tapi setidaknya lewat tulisan ini saya akan mencoba mengingatnya kembali sekuat ingatan saya suatu hari nanti.
Agustus memang bulan yang akan selalu saya ingat sampai kapanpun. Bukan hanya karena dibulan itu saya pertama kali pergi ke halmahera ini dua tahun silam tapi karena disana memang banyak sekali ingatan yang tak bisa saya tuliskan satu persatu bersama kalian dibulan ini beberapa hari lalu dan beberapa tahun lampau.
Malam semakin larut, waktunya saya mengakhiri tulisan pendek ini.
Besok akan ada banyak sekali pekerjaan yang menuntut keseriusan ditengah-tengah ingatan yang berkelebat tentang masa-masa bersama kalian disana.
Saya masih tetap berharap agar setiap hari dapat saya lewati dengan cepat agar suatu hari nanti saya dapat segera pulang dan bisa merampungkan pekerjaan-pekerjaan insidental kembali disana bersama kalian. Menghabiskan bercangkir-cangkir kopi dengan obrolan lama yang tak ada habisnya kita bahas.
Sebetulnya banyak sekali yang ingin saya utarakan disini namun apa daya tangan tak sampai. Selain waktu yang semakin sempit juga stamina saya yang agak mengendur. Tulisan yang dibuat tengah malam ini sudah saatnya saya akhiri.
Untuk bokir, kodok, golun, gayung, bule, ran, oceng, udeng, moeng, wisnu, eko, iduy, ardi, benjo, panji, opik, memey, eka, bando, ubed, bogel, cimon dan kalian yang tak bisa saya sebutkan satu persatu disini semoga Alloh tetap menjaga kalian dimanapun kalian berada.
Maaf telah merepotkan kalian selama ini.
Tetap berlawan dengan apapun yang kita punya hari ini.
Perjuangan belum berakhir, selama tirani masih subur di negeri ini, selama itu pula kita harus tetap waras.
Tetap semangat dalam menjalani hidup yang harus dihidupi ini.
Saya yakin suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali dengan kegilaan yang berbeda namun tetap dengan secangkir kopi yang sama.
Salam juang dari sahabatmu yang terlupakan.

Bardung

Tobelo, halmahera utara 2016

Minggu, 21 Agustus 2016

Saya bingung cari judul buat tulisan ini

Awalnya tak terpikir untuk menulis tulisan ini sebelumnya, tapi karena satu dan lain hal saya pikir ada baiknya saya menuangkannya disini. Jika kamu pikir tulisan ini tak penting dan hanya menghabiskan waktumu, saya mohon untuk tak membacanya. . . . .

                             I
Saya bingung harus memulainya dari mana, karena mungkin sudah beberapa bulan terakhir saya tak pernah menulis lagi. Hingga akhirnya kaku berbias kalut menuntun saya memulainya kembali.
Jika boleh disebut kecewa mungkin saya kecewa. Jika boleh disebut marah mungkin saya marah. Tapi entah apa alasan saya harus marah berbarengan dengan kecewa ini. Tadi malam sebetulnya ada hal yang ingin saya sampaikan, beberapa point mungkin memang tak penting. Saya rela berlusuh-lusuh menyempatkan diri pergi ke sebuah konser musik-yang sebenarnya bertolak belakang dengan nurani saya- di Cianjur sepulang dari Bandung agar dapat bertemu denganmu. Bisa menghabiskan saat-saat terkahir saya dicipanas dengan orang yang tak biasa. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain sehingga kita tak dipertemukan malam itu.
Dengan sedikit mendramatisir keadaan saya pulang dengan rasa kecewa bergelayut di muka tadi malam. Berharap orang yang tak biasa itu bisa mengerti mengapa saya rela menyisihkan waktu ditengah hiruk-pikuk aktivitas saya yang tak penting ini.

Kalau boleh sedikit bercerita kenapa keadaannya menjadi sedikit rumit-bagi saya setidaknya-sekarang. Jujur saja beberapa tahun lalu saya tak pernah terpikir untuk cepat-cepat mempunyai perasaan seperti ini (saya enggan menyebutnya jatuh cinta). Ada beberapa hal yang sebetulnya sedang saya geluti beberapa tahun kebelakang sehingga perhatian saya sangat tersita pada hal-hal tersebut. Bukannya so heroik atau semacamnya tapi jujur saja sebetulnya saya sedang mendalami ilmu agama dan sedikit marxisme belakangan ini. Keadaanlah yang merubah saya seperti ini. Karena kebetulan saya tinggal di daerah timur yang refresifitas aparatnya terhadap rakyat jelata sangat massif dan brutal, membuat saya harus terus belajar manajemen konflik tentang peta konflik agraria, filsafat ilmu, antropologi budaya dan agama sekaligus.
Bayangkan saja hampir setiap pagi saya melihat pedagang yang dikejar-kejar oleh aparat karena dilarang berjualan. Harus rela disebut antek-antek ISIS hanya karena menjalankan sunnah Nabi. Belajar bagaimana penetrasi kapital bisa merubah pranata sosial-ekonomi masyarakat lewat hegemoni budaya yang mereka tanamkan dengan mekanisme pasar bebasnya. Kira-kira seperti itulah dinamika yang saya hadapi setiap hari disana sehingga belajar lebih kritis memandang lingkup kehidupan masyarakat jelata membuat perhatian saya terhadap buku-buku politik, agama, filsafat, ekonomi, sosial dan sains membuat saya lupa rasanya jatuh cinta seperti sekarang.
Dan entah dalam sebulan ini mungkin saya lalai terhadap tugas saya atau memang terlalu banyak waktu luang yang saya habiskan percuma sehingga keadaan membuat saya seperti ini. Harus punya perasaan aneh seperti ini lagi setelah selama 3-4 tahun terakhir saya tidak pernah merasaknnya lagi seperti padamu hari-hari ini.
Tapi ada mekanisme yang luput dari pandangan saya selama ini; bahwa manusia sebetulnya diciptakan berpasangan dan itu adalah hal ilahiah yang memang setiap manusia harus merasakannya-setidaknya sekali seumur hidup. Dan berumah tangga adalah sebuah fase yang tidak bisa terelakkan lagi sebagai pencapaian akhir dari entitas tertinggi atas apa yang sering orang sebut cinta. Rasanya aneh sekali bisa merasakannya kembali setelah bertahun-tahun hidup sendiri dan sedikit berjarak dengan perempuan bukan karena kehilangan hasrat tapi perhatian saya terlalu besar pada ide-ide politik revolusioner yang membuat energi saya terkuras habis untuk itu.

Lalu apa tujuan saya menulis esai pendek ini? Begini, saya tahu saya bukan orang yang punya rasa percaya diri tinggi sehingga bisa mengutarakan perasaan ini langsung padamu sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di blog pribadi saya sebagai arsip pribadi untuk dikenang juga marka pengingat bahwa saya pernah jatuh cinta pada perempuan luar biasa sepertimu. Mungkin bagian ini terdengar berlebihan (atau mungkin semua bagian esai ini terdengar berlebihan?).
Sebelum saya benar-benar pergi dan tak bisa lagi bersua denganmu ada beberapa hal yang ingin saya utarakan sebagai nasihat-walau saya tak yakin ini adalah sebuah nasihat.
Pertama saya minta maaf karena sudah lancang mempunyai perasaan ini. Saya pun tak mengerti jika harus dijelaskan bagaimana awalnya bisa seperti ini, karena semuanya begitu alamiah mengalir tanpa saya sadari sebelumnya bisa tiba-tiba muncul tanpa saya kehendaki. Dan saya tak perlu jawaban apapun untuk semuanya. Karena tak mungkin jika kita kembali pada perbuatan jahiliyah seperti dahulu untuk melabuhkan perasaan ini sebagai pembuktian dari semuanya. Jadi saat ini, saya hanya sedang mengintenskan berdoa agar kita diberi hasil akhir yang baik oleh Tuhan. Disamping itu, saya juga sedang memperbaiki diri agar kelak jika kita memang berjodoh saya tak ingin jadi imam yang gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Saya harap kamu pun begitu.
Kedua, jika Tuhan tak mempertemukan kita lagi, saya harap akan ada orang yang memang benar-benar mencintaimu  dengan ikhlas dan memandang kekuranganmu sebagai kekuatan dan kelebihanmu sebagai alasan untuk berlawan. Dan tentunya bisa membuatmu bahagia dunia-akhirat.
Ketiga (eh banyak amat ya? Hehehe) jika memang kita tak berjodoh, saya ingin kamu dapat memilih lelaki yang memang mengerti agama. Karena zaman sekarang, jika agamanya saja dia abaikan bagaimana bisa berumah tangga ditengah badai fitnah seperti sekarang.
Dan terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, saya harap tak ada yang berubah diantara kita setelah kamu membacanya. Tetap berinteraksi seperti biasa seperlunya dengan batasan-batasan syar'i tentunya. Jangan berpikir bahwa dengan saya menulis tulisan ini membuatmu berpikiran saya ingin menjauh karena ketidakidealan sebelumnya.
Asal kamu tahu, saya benar-benar butuh orang seperti kamu untuk tetap bertahan melawan para tiran; yang sudah barang tentu itu bukan tugas yang mudah untuk orang seperti saya.
Dan saya harap kamu mengerti.
Ingat anekdot ini; setiap lelaki yang hebat pasti ada wanita kuat dibelakangnya.
Akhirul kalam.

I love you with every nerves in my hand :)

Cipanas, 23 agustus 2016

Jumat, 06 November 2015

CATATAN KECIL DARI ANAKMU

I'm sorry mom I haven't make you happy yet

Apa kabar hari ini mah? Semoga Engkau selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa setiap harinya. Semoga Engkau diberi umur panjang dalam kebaikan oleh-Nya.
Tulisan ini saya buat sengaja untuk di dedikasikan hanya untukmu, walau saya tahu setiap huruf yang saya susun disini tak dapat menggantikan setiap cucur keringat, darah dan air mata yang kau teteskan untuk tetap membuat saya hidup sampai hari ini.
Mungkin banyak sekali moment dimana saya selalu membuatmu menangis kecewa, tapi asal kau tahu saja saya tidak pernah sedikitpun bermaksud untuk itu.
Dari mulai jabang bayi dulu hingga hari ini saya sudah berjenggot, saya selalu menyusahkan mu dengan jutaan kenakalan yang selalu saja kau tolerir. Entah apa motivasi dibalik semua hal yang kau perjuangkan untuk saya sampai hari ini. Tapi yang jelas saya tidak akan pernah menyamai apa yang telah kau berikan selama ini.
Dari dongeng fabel yang sering kau ceritakan pada saya setiap malam hingga hari ini saya bergelut dengan Das Kapital-nya Karl Marx, entah berapa miliar nominal yang sudah kau habiskan hanya untuk anak pertamamu ini sekarang. Jika seisi bumi saya berikan hari ini untuk menebus penderitaan yang kau rasa dimasa lalu untuk membuat saya tetap hidup hari ini mungkin takkan pernah cukup untuk menggantinya

Saya tahu tidak mudah menjadi seorang single parent sepertimu untuk membesarkan anak nakal seperti saya. Apalagi anakmu bukan hanya saya, masih ada kakak dan adik saya yang sama menyusahkannya dengan saya. Tapi sungguh luar biasa kau bisa melewatinya walau dengan perjuangan berdarah-darah dimasa lalu. Dengan sifat malas saya yang sampai hari ini belum bisa saya rubah sepenuhnya tapi engkau tetap sabar menghadapinya. Bahkan yang paling saya kagumi dari engkau adalah rasa sabar yang begitu luar biasa dalam menghadapi anak seperti saya. Saya tidak yakin akan ada orang yang dengan sabar dapat menghadapi malas, keras kepala, oportunis dan berbagai sifat menjengkelkan saya lainnya selain engkau didunia ini.

Saya begitu bersyukur bisa bertemu engkau didunia ini, seorang malaikat cemerlang tak bersayap yang rela menyisihkan rasa bahagianya demi membesarkan saya hingga hari ini.
Saya tahu engkau tak akan pernah melihat tulisan ini mah, karena saya tahu bagaimana sibuknya menjadi seorang ibu. Jangankan membuka blog atau jejaring sosial lainnya, waktumu hanya habis untuk berdoa dan terus berusaha membuat kami tetap tumbuh. Jadi saya tidak pernah berharap engkau bisa melihat tulisan sederhana dipojokan blog sederhana saya ini, tapi satu hal yang saya minta; Tetap lah jadi Ibu kami yang sabar, baik hati, penyayang dan santun serta pemurah selamanya.
Walau kadang teguranmu membuat saya sakit hati, tapi saya tahu kau tak pernah berniat seperti itu. Kau hanya ingin kami tetap menjadi lebih baik setiap harinya. Karena itulah kau tetap menegur kami ketika kami hilap.

Jika ada wanita yang selalu saya doakan di setiap sujud, engkau lah orangnya.
Maafkan saya karena sampai saat ini masih selalu merepotkanmu ditengah hiruk-pikuk duniamu yang sibuk itu.
Maafkan saya karena belum bisa membuat engkau bangga seperti anak-anak lainnya. Tapi jujur saja, sampai hari ini saya masih tetap berusaha menjadi orang yang bisa selalu kau banggakan.
Maafkan saya karena sampai hari ini saya belum bisa memberikanmu seorang cucu yang selalu kau idamkan.
Maafkan saya karena sampai hari ini saya masih sering membuatmu kecewa, marah, kesal dan jengkel karena ulah bodoh saya.
Tapi jujur saja dibalik semua tingkah bodoh saya selama ini padamu terselip rasa sayang yang tak bisa saya utarakan langsung padamu mah.
Jika saya list disini tentang semua kebaikanmu mungkin tidak akan pernah cukup. Tapi semoga tulisan ini membuat orang lain sadar bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Apalagi menghadapi anak nakal seperti saya ini yang bukan hanya harus menghabiskan sejumlah nominal saja tapi juga keringat, darah dan air mata juga harus selalu kau curahkan untuk saya.

Terima kasih telah merawat saya sampai hari ini mah.
Untuk setiap surat panggilan dari sekolah yang sering kau terima dulu karena saya jarang masuk sekolah, saya ucapkan maaf sebesar-besarnya.
You are the biggest thing I ever have.

Halmahera, 6 November 2015

Ramadhan Yang Perlu Diingat