Minggu, 21 Agustus 2016

Saya bingung cari judul buat tulisan ini

Awalnya tak terpikir untuk menulis tulisan ini sebelumnya, tapi karena satu dan lain hal saya pikir ada baiknya saya menuangkannya disini. Jika kamu pikir tulisan ini tak penting dan hanya menghabiskan waktumu, saya mohon untuk tak membacanya. . . . .

                             I
Saya bingung harus memulainya dari mana, karena mungkin sudah beberapa bulan terakhir saya tak pernah menulis lagi. Hingga akhirnya kaku berbias kalut menuntun saya memulainya kembali.
Jika boleh disebut kecewa mungkin saya kecewa. Jika boleh disebut marah mungkin saya marah. Tapi entah apa alasan saya harus marah berbarengan dengan kecewa ini. Tadi malam sebetulnya ada hal yang ingin saya sampaikan, beberapa point mungkin memang tak penting. Saya rela berlusuh-lusuh menyempatkan diri pergi ke sebuah konser musik-yang sebenarnya bertolak belakang dengan nurani saya- di Cianjur sepulang dari Bandung agar dapat bertemu denganmu. Bisa menghabiskan saat-saat terkahir saya dicipanas dengan orang yang tak biasa. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain sehingga kita tak dipertemukan malam itu.
Dengan sedikit mendramatisir keadaan saya pulang dengan rasa kecewa bergelayut di muka tadi malam. Berharap orang yang tak biasa itu bisa mengerti mengapa saya rela menyisihkan waktu ditengah hiruk-pikuk aktivitas saya yang tak penting ini.

Kalau boleh sedikit bercerita kenapa keadaannya menjadi sedikit rumit-bagi saya setidaknya-sekarang. Jujur saja beberapa tahun lalu saya tak pernah terpikir untuk cepat-cepat mempunyai perasaan seperti ini (saya enggan menyebutnya jatuh cinta). Ada beberapa hal yang sebetulnya sedang saya geluti beberapa tahun kebelakang sehingga perhatian saya sangat tersita pada hal-hal tersebut. Bukannya so heroik atau semacamnya tapi jujur saja sebetulnya saya sedang mendalami ilmu agama dan sedikit marxisme belakangan ini. Keadaanlah yang merubah saya seperti ini. Karena kebetulan saya tinggal di daerah timur yang refresifitas aparatnya terhadap rakyat jelata sangat massif dan brutal, membuat saya harus terus belajar manajemen konflik tentang peta konflik agraria, filsafat ilmu, antropologi budaya dan agama sekaligus.
Bayangkan saja hampir setiap pagi saya melihat pedagang yang dikejar-kejar oleh aparat karena dilarang berjualan. Harus rela disebut antek-antek ISIS hanya karena menjalankan sunnah Nabi. Belajar bagaimana penetrasi kapital bisa merubah pranata sosial-ekonomi masyarakat lewat hegemoni budaya yang mereka tanamkan dengan mekanisme pasar bebasnya. Kira-kira seperti itulah dinamika yang saya hadapi setiap hari disana sehingga belajar lebih kritis memandang lingkup kehidupan masyarakat jelata membuat perhatian saya terhadap buku-buku politik, agama, filsafat, ekonomi, sosial dan sains membuat saya lupa rasanya jatuh cinta seperti sekarang.
Dan entah dalam sebulan ini mungkin saya lalai terhadap tugas saya atau memang terlalu banyak waktu luang yang saya habiskan percuma sehingga keadaan membuat saya seperti ini. Harus punya perasaan aneh seperti ini lagi setelah selama 3-4 tahun terakhir saya tidak pernah merasaknnya lagi seperti padamu hari-hari ini.
Tapi ada mekanisme yang luput dari pandangan saya selama ini; bahwa manusia sebetulnya diciptakan berpasangan dan itu adalah hal ilahiah yang memang setiap manusia harus merasakannya-setidaknya sekali seumur hidup. Dan berumah tangga adalah sebuah fase yang tidak bisa terelakkan lagi sebagai pencapaian akhir dari entitas tertinggi atas apa yang sering orang sebut cinta. Rasanya aneh sekali bisa merasakannya kembali setelah bertahun-tahun hidup sendiri dan sedikit berjarak dengan perempuan bukan karena kehilangan hasrat tapi perhatian saya terlalu besar pada ide-ide politik revolusioner yang membuat energi saya terkuras habis untuk itu.

Lalu apa tujuan saya menulis esai pendek ini? Begini, saya tahu saya bukan orang yang punya rasa percaya diri tinggi sehingga bisa mengutarakan perasaan ini langsung padamu sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di blog pribadi saya sebagai arsip pribadi untuk dikenang juga marka pengingat bahwa saya pernah jatuh cinta pada perempuan luar biasa sepertimu. Mungkin bagian ini terdengar berlebihan (atau mungkin semua bagian esai ini terdengar berlebihan?).
Sebelum saya benar-benar pergi dan tak bisa lagi bersua denganmu ada beberapa hal yang ingin saya utarakan sebagai nasihat-walau saya tak yakin ini adalah sebuah nasihat.
Pertama saya minta maaf karena sudah lancang mempunyai perasaan ini. Saya pun tak mengerti jika harus dijelaskan bagaimana awalnya bisa seperti ini, karena semuanya begitu alamiah mengalir tanpa saya sadari sebelumnya bisa tiba-tiba muncul tanpa saya kehendaki. Dan saya tak perlu jawaban apapun untuk semuanya. Karena tak mungkin jika kita kembali pada perbuatan jahiliyah seperti dahulu untuk melabuhkan perasaan ini sebagai pembuktian dari semuanya. Jadi saat ini, saya hanya sedang mengintenskan berdoa agar kita diberi hasil akhir yang baik oleh Tuhan. Disamping itu, saya juga sedang memperbaiki diri agar kelak jika kita memang berjodoh saya tak ingin jadi imam yang gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Saya harap kamu pun begitu.
Kedua, jika Tuhan tak mempertemukan kita lagi, saya harap akan ada orang yang memang benar-benar mencintaimu  dengan ikhlas dan memandang kekuranganmu sebagai kekuatan dan kelebihanmu sebagai alasan untuk berlawan. Dan tentunya bisa membuatmu bahagia dunia-akhirat.
Ketiga (eh banyak amat ya? Hehehe) jika memang kita tak berjodoh, saya ingin kamu dapat memilih lelaki yang memang mengerti agama. Karena zaman sekarang, jika agamanya saja dia abaikan bagaimana bisa berumah tangga ditengah badai fitnah seperti sekarang.
Dan terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, saya harap tak ada yang berubah diantara kita setelah kamu membacanya. Tetap berinteraksi seperti biasa seperlunya dengan batasan-batasan syar'i tentunya. Jangan berpikir bahwa dengan saya menulis tulisan ini membuatmu berpikiran saya ingin menjauh karena ketidakidealan sebelumnya.
Asal kamu tahu, saya benar-benar butuh orang seperti kamu untuk tetap bertahan melawan para tiran; yang sudah barang tentu itu bukan tugas yang mudah untuk orang seperti saya.
Dan saya harap kamu mengerti.
Ingat anekdot ini; setiap lelaki yang hebat pasti ada wanita kuat dibelakangnya.
Akhirul kalam.

I love you with every nerves in my hand :)

Cipanas, 23 agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadhan Yang Perlu Diingat