Sudah genap berbulan kita tak bersua.
Aku selalu ingin tahu apa kabarmu disana.
Aku juga selalu ingin tanyakan padamu bagaimana hari-harimu berjalan disana tanpaku.
Apa saja yang kamu lewati setiap hari dikantor tempatmu bekerja setiap hari.
Juga ingin kutanyakan buku apa yang sedang kamu baca akhir-akhir ini.
Dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lainnya dibenakku yang setiap hari menumpuk tak terjawab.
Seandainya Tuhan itu tak ada, inginku tanyakan apa kabarmu disana?
Tapi aku tahu diri, Tuhan itu ada dan sedang mengawasi kita.
Sehingga alangkah lebih baik jika aku melipat setiap tanyaku rapi-rapi lalu kuselipkan di setiap doaku dalam sujudku kepada-Nya.
Kamu tahu apa saja doa yang sering aku panjatkan dalam setiap solatku untukmu Surti?
Asal kamu tahu, aku selalu meminta agar Dia menjagamu dimanapun, kapanpun dan dari apapun yang berbahaya bagimu.
Selalu memintakan untukmu keberkahan, kelancaran dan kemudahan dalam setiap langkahmu meniti jalan-Nya.
Nampaknya doaku terlalu berlebihan, tapi hanya itu yang aku punya.
Aku tak punya keberanian untuk sekedar menanyakan kabarmu di sosial media. Padahal kontakmu aku punya.
Sesekali akupun selalu melihat status-statusmu.
Dan berharap ada satu yang kau tulis untukku.
Tapi aku tak kecewa kalaupun itu tak ada, mungkin kau lebih suka menyebutku dalam doamu dari pada dalam statusmu. Aku ber-husnudzon saja.
Oh iya apa kabar bapak-ibumu Surti?
Kuharap mereka baik-baik saja.
Mereka juga selalu aku doakan seperti aku mendoakan ibu-bapakku, namun tak sesering seperti aku mendoakanmu, Surti.
Maafkan aku Surti, aku tak pandai bersajak.
Sehingga banyak dari rima-rima ini berhambur tak teratur.
Ini hanya rangkaian kalimat-kalimat yang kususun dari puing rinduku padamu.
Jadi sekali lagi maafkan aku Surti.
Aku hanya tak bisa melihat kanvas kosong dan pena yang berkarat.
Lalu ku gabungkan jadi satu sajak hingga tamat.
Agar apa? Agar kamu tahu bahwa disini, ditempat asing ini ada orang hina yang selalu membasahi bibirnya dengan doa-doa lirih untukmu. Ya hanya untukmu . . .
Kamu tak perlu membalas sajak ini, membacanya pun adalah karunia bagiku.
Bahwa selama ini, di diamku ada doa yang berirama untukmu.
Dibibir pantai Indonesia Timur, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar