Hati saya terlalu sensitif mendengar kata perpisahan, mungkin karena sudah terlalu banyak saya kehilangan dan ditinggalkan . . .
Hari itu tanggal 23 agustus 2016 sengaja sejak pagi saya mulai mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa. Dari obat-obatan hingga pakaian dan buku tak lupa saya masukan ke dalam koper. Saya sengaja membiarkannya merayap begitu saja agar tak susah saya ingat. Karena memang waktu saya tinggal beberapa jam lagi di cipanas pagi itu. Sore harinya saya harus benar-benar berangkat menuju bandara dijakarta karena jadwal penerbangan malam itu dipercepat satu jam menjadi jam 23:01.
Dengan waktu yang sedikit sempit itu saya sempat bertemu beberapa karib guna beremeh-temeh dihadapan beberapa gelas minuman agar menjadi marka jika suatu hari nanti kita memang tak akan pernah bertemu lagi.
Berbincang-bincang ringan tentang hal apa saja yang akan dilakukan akhir tahun ini tanpa saya dan banyak lagi obrolan menggantung lainnya yang tak sempat rampung kami selesaikan sore itu.
Tepat pukul 16:31 ba'da solat ashar saya mengemasi barang yang akan dibawa dan sengaja beberapa karib mengantar saya menuju bis yang akan saya tumpangi ke jakarta.
Sempat beberapa menit saya berpamitan dengan orang tua saya untuk terakhir kali sore itu.
Sore terakhir saya dicipanas, memang berat rasanya harus meninggalkan cipanas lagi. Walau keadaannya jauh berbeda dari 2 tahun lalu dimana semuanya begitu abu-abu dari sore itu.
Tak lama bis yang saya tumpangi bergegas perlahan meninggalkan cipanas menuju jakarta.
Rasanya ada yang tertinggal disana, tapi entah apa saya pun tak pernah tahu dan tak ingin menjawabnya jika itu memang benar-benar pertanyaan yang harus dijawab.
Beberapa jam kemudian saya tiba di terminal kampung rambutan di daerah jakarta timur. Tak lama saya singgah, saya langsung mencari tumpangan menuju bandara karena waktu itu malam sudah mulai turun menggantikan sore.
Setelah terlibat percakapan alot dengan supir yang akan membawa saya ke bandara soal harga ongkos yang disepakati, akhirnya kami bersepakat dan segera menuju bandara setelah singgah beberapa menit di sebuah super market untuk membeli beberapa makanan ringan. Karena saya tahu dibandara harga makanan ringan tak akan semurah di super market diluar bandara.
Beberapa jam kemudian akhirnya saya sampai dibandara sebelum jam keberangkatan.
Setelah chek in dan mengurusi beberapa administrasi di terminal 2F, saya langsung bergegas menuju ruang tunggu bersama penumpang yang lain.
Rencananya pesawat yang akan saya tumpangi akan transit di makassar untuk beberapa jam.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:26 ketika saya berada diruang tunggu malam itu. Saya bersyukur perhitungan saya tak meleset, karena sebelum take off saya sudah berada dibandara sebelumnya.
Sambil menunggu kedatangan pesawat yang akan saya tumpangi saya sengaja memasang earphone ditelinga, memutar lagu Leaving on a jetplane-nya John Denver dan membaca novel karya John O'farrel yang berjudul The best a man can get agar sedikit rileks menghadapi perpisahan dengan jakarta malam itu.
Beberapa jam kemudian terdengar bunyi dari pengeras suara diruang tunggu menginformasikan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan sekian tujuan makassar-ternate akan segera berangkat.
Saya bergegas menutup buku yang sedang saya baca lalu masuk ke ruangan lain yang saya tak tahu namaya bersama dengan penumpang yang lain.
Beberapa saat setelah menunjukkan tiket dan berbagai tetek-bengek lainnya saya langsung menuju pesawat dengan hati yang gundah.
Dalam hati saya menggumam "akhirnya malam ini tiba juga, malam dimana semuanya harus dimulai dan berakhir bersamaan". Beberapa pramugari melemparkan senyuman sambil mengucapkan selamat datang pada kami yang baru masuk di pesawat. Segera setelah masuk pesawat saya mencari tempat duduk yang tertera sesuai di tiket saya. 10C, begitulah kira-kira tanda di tiket yang saya dapati pada tangan saya. Sambil mencari-cari tempat duduk itu saya mulai mematikan musik yang dari tadi saya ulang di lagu Leaving on a jetplane-nya John denver itu.
Ternyata tak sulit mencari tempat duduk berseri 10C itu. Saya langsung duduk setelah menemukannya dan mulai menaruh tas di atas kabin.
Sambil sesekali mengecek handphone, saya melihat ke luar jendela pesawat malam itu.
Ada semburat kekakuan yang tak bisa saya utarakan malam itu. Semuanya begitu bergegas malam itu. Rasanya sendu semakin berkelebatan di seisi kabin pesawat setelah pramugari menyuruh saya mematikan handphone karena pesawat akan segera mengudara sesegera mungkin malam itu.
Jauh sebelum malam itu, saya pernah berangan mempunyai pekerjaan diluar daerah yang jaraknya jauh dari rumah dan nanti ketika waktunya harus pulang kembali akan ada banyak orang yang menyambut saya dengan keriangan karena merasa kehilangan.
Pada akhirnya angan itu jadi nyata malam ini.
Setelah bertahun bertahan diluar daerah di Indonesia timur akhirnya saya pulang dengan membawa sekarung besar rindu yang disambut riang persis seperti apa yang saya bayangkan dulu. Dan memulainya lagi dengan perpisahan yang berakhir di bandara Soekarno-Hatta malam itu.
Saya merasa seperti seorang Gillian Forester yang harus meninggalkan Chris Matthews dari San Fransisco menuju New York dalam Novel Danielle Steel favorit saya malam itu. Begitu berat namun harus tetap dijalani dengan kepala tegap walau isi jantung begitu hancur amburadul seperti diremas-remas keras hingga otak jadi tak waras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar