Jumat, 16 September 2016

MEMBACA BUKU DAN KESUNYIAN

MEMBACA BUKU

Siang itu saya bergegas menuju kantor pos untuk menjemput kiriman buku dari seorang teman di jogja. Ditengah terik matahari, mega yang menyeringai dan rasa penasaran akut saya berjalan dengan harapan buku yang saya pesan telah sampai dengan selamat. Karena sudah hampir 2 minggu buku pesanan saya itu tak jua datang. Siang itu sengaja saya memberanikan diri datang ke kantor pos. Namun kecewa alang-kepalang ternyata kantor pos tutup hari itu.
Dengan berjuta kecewa saya pulang dan tak sempat merapikan wajah yang kusut akibat perjalanan yang saya tempuh dari rumah ke kantor pos yang lumayan sangat jauh itu.
Beberapa minggu lalu saya memesan buku berjudul Aku, buku dan sepotong sajak cinta karya penulis favorit saya Muhidin M Dahlan. Besar harapan saya agar buku itu dapat langsung saya santap hari itu. Namun takdir berkata lain. Mungkin ada beberapa masalah teknis sehingga buku yang saya pesan belum sampai, saya ber-husnudzon saja.

Beberapa tahun lalu, saya sama sekali tak suka membaca. Walau banyak buku yang saya punya dan ada beberapa hadiah dari orang-orang tertentu. Namun membaca buku adalah hal yang sangat jarang saya lakukan waktu itu. Bukan hanya karena membaca adalah hal membosankan, juga karena hobi saya waktu itu masih lebih menyenangkan ketimbang membaca buku; bermain musik.
Namun perlahan ketika keadaan menyeret saya pada suatu kondisi dimana musik menjadi sangat membosankan dan kebutuhan terhadap informasi sangat mendesak sehingga saya terpaksa harus rajin membaca buku sebagai penghilang kebosanan, pelipur lara juga alasan berlawan.
Karena membaca adalah batu penjuru dari edukasi, dan edukasi adalah hal paling vital dalam aktivisme maka dari itu saya rela mengahabiskan waktu hanya untuk membaca.
Selain menghabiskan waktu, membaca buku juga kadang memiskinkan. Maklum lah saya hanya seorang buruh upahan yang penghasilannya untuk makanpun masih pas-pasan. Jadi saya harus rela membagi uang hasil kerjaan saya dengan ratusan kebutuhan lainnya. Menabungnya dengan harapan jika ada buku yang diinginkan nanti saya bisa langsung memesannya.
Juga ada alasan lain yang membuat saya jadi sedikit gemar membaca akhir-akhir ini.
Karena handphone yang saya punya waktu itu tak memungkinkan mengakses berbagai informasi dengan lancar, makanya saya hanya bisa mencari alternatif informasi dengan bentuk tulisan. Harus dimaklumi sekali lagi handphone saya tak bisa dengan cepat mengakses video dan berbagai audio visual lainnya sedangkan kebutuhan akan ilmu dan informasi membuat hasrat keingin-tahuan saya semakin tinggi. Jadi alternatif terbaik waktu itu hanyalah dengan membaca.
Akhirnya kecintaan saya terhadap membaca tumbuh sedikit demi sedikit seperti layaknya ABG yang baru jatuh cinta pada lawan jenisnya.

KESUNYIAN

Saya memang orang yang jarang bersosial dengan banyak orang. Menghabiskan banyak waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul tentang hal yang tak jelas membuat saya tak nyaman.
Maka dari itu saya memilih berjarak dengan khlayak agar terhindar dari sindrom-sindrom obrolan basa-basi yang tak jelas juntrungnya.
Saya lebih memilih mengahabiskan waktu sendirian dengan membaca buku atau artikel-artikel pendek sebagai pengisi waktu senggang.
Begitu pun di halmahera ini, sepulang dari bekerja saya lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku sendirian ditengah keheningan malam agar suasana hati kembali memancarkan rona dari keterasingan personal seperti lazimnya seorang jomblo lainnya.
Rasanya ada korelasi yang selaras antara kesunyian dan membaca buku. Dua hal tersebut sepertinya sudah ditakdirkan untuk tetap bertemu.
Bagi orang-orang yang menyandang penyakit kesepian akut seperti saya, membaca ditengah keheningan malam adalah hal yang paling membahagiakan ditengah-tengah dunia yang menyedihkan ini.
Saya rasa itulah alasan kenapa banyak dari para jomblo sejati seperti Tan Malaka dan William Sheakspear bisa membuat banyak buku; mereka lebih menyukai kesunyian dan membaca buku dariapada harus mengahabiskan waktu dengan lawan jenis yang tak ada gunanya.
Membaca ditengah malam sepulang bekerja memang bukan hal mudah, selain harus menahan rasa kantuk yang menggila diujung pelupuk mata juga waktu-waktu seperti itu sangat sulit saya dapatkan dimana kita harus berselaras dengan heningnya malam dan tetap berusaha fokus ditengah ingatan-ingatan tentang pekerjaan yang menuntut keseriusan esok harinya.
Tapi beruntunglah karena saya adalah orang yang sedikit dapat bertahan walau hanya beberapa jam dengan membaca buku ditengah heningnya malam seperti itu.
Hingga sekarang saya tak tahu akan berakhir sampai kapan hobi saya ini. Mungkin 2 sampai 3 tahun kedepan akan ada hobi baru yang menggerus hobi lama saya ini. Atau mungkin akan tetap bertahan walau sedikit demi sedikit harga buku sudah mulai melambung akhir-akhir ini dan saya akan segera mengakhirinya lalu mencari hobi yang sedikit murahan agar dapat tetap membunuh kebosanan dan memiliki passion ditengah dunia yang hiruk-pikuk ini. Entahlah . . . . Hanya Tuhan yang tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadhan Yang Perlu Diingat