Rabu, 21 Februari 2018

She know I need her

Sebelum ini, aku memang pernah berkhayal ke alam kahyangan. Bertemu seorang gadis dengan wawasan luas, elegan, penuh kegembiraan di air mukanya, melahap buku apa saja untuk dibaca dan tentu saja teman yang baik dalam berbincang. Kenapa tidak ada paras cantik disana? Ya, khayalanku tak muluk walau sedikit utopis. Paras yang cantik, bagaimanapun bukan jaminan prilaku yang baik. Lagipula, paras, secantik apapun akan lekang dilahap waktu. Ia tak abadi.

Namun hari ini, gadis dari kahyangan itu, hadir mengisi setiap lembar buku harianku yang hampir buram warnanya. Menggambar warna-warna cerah di ufuk senja saya. Padangannya yang teduh, mengikis stigma negatifku tentang dunia. Gesturnya yang gemulai seolah berkorelasi dengan tuturnya yang lembut nan membius setiap urat di nadi ini.

Entah apa yang aku rasa hari ini, entah sebuah imajinasi yang terealisasi atau lainnya. Dia begitu nyata, hidup diantara rongga paru-paru bak udara. Pernah terpikir, jika ini hanya fatamorgana sementara. Lalu gadis itu, terbang meninggalkan dunia ke kahyangan, tempat dia seharusnya berada.

Setiap kata yang terlontar darinya, begitu indah. Aku, terkdang hampir lupa cara bernafas jika didekatnya, gugup, ya aku gugup jika didekatnya. Jangankan memandang matanya yang teduh itu, bersanding di sisinya saja terasa membuat saraf-saraf diotakku tak berfungsi. Tak aneh, ini adalah ekspersi dari sebuah mimpi yang terealisasi.

Ketika namanya muncul di layar handphone ku, rasanya meneduhkan sekaligus menenangkan. Adiktif, aku tak bisa jika dia tak hadir di hidup ini walau hanya sehari, begitu yang aku rasa hari ini. Dalam benak terlintas, apakah dia yang selama ini selalu aku minta disepertiga malamku? Diakah jawaban yang Tuhan kirim untuk setiap doa disujudku selama ini? Entahlah. Yang jelas, aku harap ini tidak temporer, tapi pemanen. Dan jika benar dia adalah jawaban dari setiap doaku, akan aku perjuangkan walau harus memangku Everest sekalipun.

Kamis, 01 Februari 2018

Sajak Untuk Surti (3)

Aku kini bak Sidarta, berkelana dengan papa
Menggenggam bara rindu yang kau tanam paksa di dada.

Mengalah bukan pilihanku, dia yang kau pilih Surti, tak jadi gentar aku karenanya.
Boleh jadi nanti kau kawin dan beranak-pinak dengannya.

Namun rinduku tak mau padam, hanya karena jejaknya yang kau paksakan padaku.
Barangkali kabar tentangmu masih menjadi buletin dalam benaku setiap hari.

Kau tahu betapa menyenangkan mengetahui kau akan kawin dengannya, ya menyenangkan Surti
Seperti elang yang menancapkan cakar di dada mangsa, akulah itu Surti. Akui

Sabtu, 27 Januari 2018

Untuk Ahed Tamimi, Tegarlah!

Untuk Ahed, gadis belia Palestina yang sangat dibanggakan dunia, semoga Allah merahmatimu dengan curahan kasih sayang-Nya walau kau berada ditempat terburuk sekalipun.
Surat ini datang dari seorang pemuda Indonesia yang tak pelu kau ketahui latar belakangnya. Saya rasa itu tak penting untuk sekarang. Beberapa bulan terakhir, kau jadi sorotan dunia Internasional karena aksi heroikmu menampar tentara Israel Laknatullah alaih, sontak saya merasa sangat terkesan dengan aksimu tersebut. Betapa tidak, kau hanya seorang gadis belia tanpa senjata yang berani melawan belasan tentara Zionis yang bersenjata penuh. Masya Allah, sungguh sangat heroik aksimu itu. Jika hidup ribuan Ahed Tamimi di Indonesia, mungkin para despot di negeri ini akan kocar-kacir hanya oleh satu Ahed Tamimi. Saya yakin.

Sungguh sebuah kepeloporan yang heroik ketika gadis belia sepertimu tak gentar melawan ketidak adilan. Ketika banyak diluar sana, gadis seusiamu yang hanya sibuk bersolek demi menarik hati lawan jenis.

Ahed yang masih belia, saya secara personal sangat mendukung tentang kebebasanmu dari penjara Zionis terkutuk itu. Namun tak banyak yang bisa saya lakukan, saya hanya dapat menulis surat ini dalam bahasa ibu saya. Dibaca atau tidak nantinya, bukan perkara. Yang penting bagi saya adalah, dukungan penuh sudah saya kerahkan untuk membebaskanmu dari penjara Zionis terkutuk itu. Engkau menjadi tauladan yang baik bagi kami, bahwa kolonialisme tak bisa dibiarkan berkembang biak begitu saja. Dimanapun itu.
Banyak warta yang saya baca soal kasusmu itu. Dukungan dari dunia internasional banjir padamu, terutama dari kaum feminis dan masyarakat anti-kolonial. Semoga dukungan kami disini bisa membuatmu sedikit lega walau berada dipenjara sana. Percayalah, jika menemui kemungkinan terburuk pun, engkau tetap akan menjadi pahlawan bagi palestina dan kemanusiaan.

Terakhir Ahed, jika nanti semuanya sudah berangsur membaik, tetap jaga api semangatmu itu. Jangan karena semua sudah membaik lantas kau lupa tujuan terluhurmu untuk memerdekakkan Palestina dari cengkraman Zionis Laknatullah alaih. Oh iya, salam untuk teman-teman pejuang di penjara sana, kalian tidak sendirian. Hari esok masih membentang luas untuk masa depan Palestina dan dunia yang lebih baik.

Akhirul kalam

Untuk apa kita membuat Status?

Judul tulisan ini sengaja saya awali dengan sebuah pertanyaan. Ya, seperti semua jenis pertanyaan, semuanya tentu butuh sebuah jawaban. Judul diatas lahir dari sebuah kegelisahan saya setiap kali akan membuat status. Mau apa saya menulis sebuah status? Untuk apa saya posting sebuah foto? Untuk siapakah target status saya? Efektif-kah status yang saya tulis untuk menyadarkan teman-teman saya—jika itu sebuah 'wake up call—misalnya.
Pernahkah Anda berpikir seperti saya? Atau ketika kalian menulis status, tidak pernah terbesit sedikitpun alasan-alasan seperti saya kemukakan diatas?. "Ah saya bosan saja, lalu saya menulis status atau memposting foto agar banyak orang mengomentari atau setidaknya dilihat orang lain", sela salah satu dari kalian. Berbeda jika saya adalah seorang penjual Online, ketika huruf pertama meluncur di papan ketik, niscaya apa yang saya lakukan semata-mata demi meraup laba dan jualan saya laris sampai habis. Atau saya seorang aktivis, apa yang saya tulis, posting atau bagikan semuanys berupa informasi seputar aktivisme seperti berita dari para petani Kulon Progo yang melawan pembangunan Bandara. Atau bisa saja informasi ihwal sebuah pengeboman di jalur Gaza jika saya aktivis kemanusiaan palestina.

Sampai sini, sepertinya apa yang saya kemukakan diatas bisa dimengerti. Lalu apa maksud tulisan ini? Simple saja, beberapa hari lalu saya mendapati begitu banyak status Hoax ihwal banyak hal. Postingan yang menurut saya sangat tak bermutu itu menjalar bak jamur dimusim hujan. Saya agak risih karena beberapa teman saya dengan bangganya menambahi Hoax tersebut dengan komentar-komentar heroik mereka. Saran saya, setidaknya sebelum kita menulis sebuah status, memposting sebuah foto atau informasi, ada baiknya kita kroscek terlebih dahulu. Jadilah manusia pintar ditengah arus zaman yang membodohkan ini. Jangan asal mempercayai sebuah berita lalu kita sebar sehingga meluas namun tak bisa dipertanggung jawabkan nantinya. Jujur saja, saya lebih suka seseorang yang menulis status ihwal kegiatan-kegiatan harian mereka atau mereka yang memposting barang dagangan ketimbang mereka yang menulis berita Hoax dan memamerkan apa yang mereka punya; seperti misalnya pamer makanan di restoran terkenal bersama keluarga pejabat. Memang tak pernah ads undang-undang yang mengatur tentang larangan memamerkan hal seperti itu, namun bisakah kita berpikir lebih arif bahwa diluar sana banyak manusia-manusia kurang beruntung yang jangankan untuk makan di restoran, untuk membeli beras pun sudah kelabakan?
Toh pada dasarnya manusia selalu punya kesadaran kolektif di setiap teritori masing-masing, jadi walau tak ada hukum yang mengatur hal tersebut, setidaknya kesadaran koletif kita-lah yang memagarinya.
Jadi untuk apa kita menulis sebuah status? Tolong pikirkan dulu sejenak sebelum menulisnya.

Minggu, 21 Januari 2018

Surat Untuk Diriku di Masa Lalu

Isi tulisan ini selintas terdengar konyol, namun bagi saya, ini adalah sebuah refleksi untuk masa depan. Jadi saya mohon, bacalah!

Untuk Happy Zulfian yang masih sangat muda dan rapuh, saya adalah kamu di masa depan. Tepatnya di tahun 2018. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan ihwal apa yang akan kau hadapi di masa depan, setidaknya tidak terlalu kontras namun mungkin berguna sebagai pertimbangan dalam mengambil sebuah tindakan.

Berapa umurmu sekarang? Ya maksud saya di tahun 2010? 17 tahun bukan? sungguh masih sangat muda. Diumur mu yang sangat belia itu akan ada banyak hal menyenangkan yang baru kau jumpai. Salah satunya teman dan pacar. Ya di tahun itu kau sedang menjalin hubungan cinta monyet dengan seorang perempuan yang dulu sangat kau sukai. Percayalah, jangan terlalu memberinya harapan berlebihan. Kelak kalian berdua akan punya jalan masing-masing, walau ketika itu kalian terlihat sangat cocok dalam berbagai hal. Kalian masih sangat polos. Begitu banyak perbedaan antara kalian di masa depan. Zaman banyak merubah watak manusia. Termasuk orang-orang disekitarmu, mereka tak pelak jadi korban zaman. Sedikit bijaklah dalam memilih tindakan. Jangan terlalu ambisius, bung. Mungkin kau akan penasaran dengan lanjutan hubunganmu dengan gadis itu. Saya akan sedikit memberi 'clue' yang abu-abu. Begini, di masa depan hidupmu tidak akan banyak berubah, sedangkan gadis itu adalah perubahan itu sendiri. Kau tak bisa membendungnya hanya dengan bermodal rasa sayang saja. Tapi kalian berpikir kalian adalah yang terbaik dan takkan terpisah? Itulah namanya cinta monyet, seperti yang saya singgung diatas, kalian terlihat serasi diluar, yang sesungguhnya ada 2 arus besar berlawanan didalam diri kalian yang tak pernah punya titik pertemuan. Kapan itu terjadi? Secepatnya. Tak lama setelah kalian tahu apa itu hidup yang sebenarnya. Jika bisa, segera selesaikan hubungan kalian sebelum akhirnya menyesal nanti. Di dunia ini, semua bisa saja terjadi tanpa kita kira sebelumnya. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk semua itu.

Soal teman-temanmu, mereka adalah orang-orang yang akan selalu sama ketika dimasa depan, beberapa mungkin akan sulit kau temui. Namun mereka tetap solid seperti ketika kau masih muda. Percayalah, jangan sia-siakan mereka. Kau punya Band bukan? Dimasa depan, Band mu akan meredup. Minatmu pada musik akan terhalang sesuatu yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya. Sesuatu yang yang besar namun kau tak pernah menyadarinya. Tunggu sampai waktu itu tiba! Saran saya, segera buat sebuah album dan launching sederhana bersama teman-temanmu. Setidaknya itu akan mengurangi rasa kecewamu dimasa depan. Terdengar tidak mungkin? Ya memang seperti itulah dunia ini bekerja bung. Serba tak terkira.

Tak bisa saya pungkiri, kau memang anak cerdas dalam beberapa hal. Namun juga bodoh dalam hal tertentu. Termasuk dalam memilih sesuatu. Kau selalu sembrono. Soal keluargamu, disama depan kalian akan terberai satu-persatu. Jadi, selagi hari ini kalian masih bisa menghabiskan waktu bersama, nikmatilah. Waktumu dengan mereka akan sangat kau rindukan di masa depan. Atur ulang jadwalmu dengan teman-temanmu. Apalagi dengan gadis yang kau sukai itu. Sayangi adik-kakakmu dan orang tua mu hari ini. Dimasa depan, semuanya terlambat jika kau lakukan. Kau akan pergi jauh meninggalkan mereka. Pergi ke suatu tempat yang kau tak pernah mengira sebelumnya. Ditempat asing itu kau akan mendapat banyak pelajaran berarti yang sayangnya kau tak menyadarinya. Dimana tempat itu? Yang pasti sangat jauh dan tak pernah kau sangka. Di depan, hidupmu akan banyak kejutan. Namun kau tak pernah berubah nenghadapi semua kejutan itu.

Terakhir, perbanyak membeli buku dan bacalah, bacalah lalu bacalah. Dimasa depan kau akan sangat menyesal karena tak melakukannya. Dan jangan lupa, pasang semua taruhanmu di setiap bandar di tahun 2014, Jerman akan juara piala dunia.


Tabik!


2018

Senin, 02 Oktober 2017

Bukan Resensi Buku: Islam Bagi Kaum Tertindas

Judul: Islam Bagi Kaum Tertindas—Kerangka pembebasan kaum Mustadl'afin dari teologi ke sosiologi
Penulis: Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Penerbit: Kreasi Wacana
Tahun terbit: Agustus 2016
ISBN: 978-602-9020-73-1
Tebal: 192 halaman

Sudah lama saya ingin mengulas buku favorit saya ini, namun karena berbagai kesibukan, saya baru berkesempatan mengulasnya. Bulan agustus kemarin genap satu tahun buku ini diterbitkan oleh Kreasi Wacana, namun sampai saat ini saya belum mendapatkan sebuah resensi komprehensif ihwal buku ini. Tulisan ini adalah dalam rangka mengisi kekosongan itu, walau saya tahu masih banyak kekurangan didalamnya, namun saya mencoba semaksimal mungkin untuk meresensinya disini.
Sebelum masuk dalam pembahasan isi buku, ada baiknya saya perkenalkan terlebih dahulu siapa penulis buku ini. Adalah Ki H. Ashad Kusuma Djaya yang menulis buku ini. Beliau pernah belajar di UGM, namun lebih banyak  belajar di jalanan, ruang diskusi, dan turun kelapangan. Menyandang gelar "Ki" setelah memimpin sebuah padepokan yang menjadi semacam pesantren pemikiran, lembaga penelitian atau "School of Thought" yang mengembangkan semangat keagamaan yang selaras dengan alam, spiritualitas berbasis pemberdayaan rakyat dan pengkajian untuk pembangunan ilmu sosial profetik. Beliau juga pernah aktif di organisasi Muhammadiyah dalam kegiatan tingkat ranting hingga pimpinan pusat.

Apa saja isi buku ini? Ide apa yang ingin disampaikan buku ini? Kira-kira begitulah pertanyaan dibenak saya ketika pertama melihat cover buku ini. Di benak saya terpikir pertama kali buku ini adalah sebuah jalan alternatif atau artikulasi semangat beragama di era kapitalisme hari ini. Dan tentu saja tebakan saya memang benar. Buku ini memuaskan ekspektasi saya. Ki H. Ashad dalam buku ini pertama-tama mengurai pondasi dasar Islam Bagi Kaum Tertindas (selanjutnya IBKT) atau lebih tepatnya redefinisi untuk teologi IBKT seperti; (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada malaikat, (3) Iman kepada Kitab Allah, (4) Iman kepada Rasul Allah, (5) Iman kepada Hari Akhir dan terkahir (6) Iman kepada Qada dan Qadar.

Secara garis besar buku ini dibagi dalam 3 bab. Bab pertama berisi pondasi telogis IBKT seperti yang saya tulis diatas. Bab kedua berisi Studi kritis pemikiran Islam dan Pembebasan. Dalam bab kedua ini, Ki H. Ashad mengurainya kembali secara rinci dalam beberapa bagian. Dalam bab dua ini,  Ki H. Ashad mengurai Sosialisme Islam Tjikroamimoto, sosialisme religius Mohammad Hatta, Teologi Al-Maa'uun Ahmad Dahlan, Kiri Islam Hasan Hanafi, Sosialisme Islam Ali Syariati hingga Keadilan Islam menurut Sayyid Quthb.

Dalam bab ketiga, Ki H. Ashad menulis sebuah judul Menuju Sosiologi Islam Bagi Kaum Tertindas sebagai pamungkas dari buku ini.

Bab ketiga ini berisi antara lain Epistomologi Sosiologi Islam Bagi Kaum tertindas, Sifat Ilmu sosial Islam, Aktor sosial dan Reproduksi sosial, Dialektika, Perubahan sosial dan terkahir PerlukahSebuah Sosiologi Islam Bagi Kaum Tertindas?

Sejauh ini buku IBKT karya Ki H. Ashad adalah salah satu kajian komprehensif ihwal Islam yang memihak. Sekaligus sebuah otokritik bagi gerkan Islam Kontemporer dihadapan Pasar bebas-nya Kapitalisme. Saya rasa buku ini hadir pada saat yang tepat, hadir disaat Ummat muslim dilanda krisis multidimensi seperti saat ini sebagai alternatif terbaik untuk kebekuan gerakan sosial Islam yang Universal.

Minggu, 01 Oktober 2017

Kue Pancong; Deskripsi singkat ihwal tempat "ngopi" favorit

Tulisan ini bukan ulasan lengkap ihwal kue pancong. Kapan pertama kali ditemukan, berasal dari mana kue ini atau segala tetek bengeknya yang lain, sekali lagi ini bukan tentang itu. Ini hanya tulisan sederhana saya soal sebuah tempat "ngopi" favorit saya.

Bicara soal tempat favorit, setiap orang pasti punya tempat favorit untuk berlama-lama menghabiskan waktu atau mengembalikan 'mood' yang terlanjur hancur dibentur realitas. Entah itu sehabis kerja, sepulang sekolah atau kegiatan melelahkan lainnya. Dihabiskan bersama teman, pacar, orang tua atau selingkuhan sekalipun itu tak masalah. Sebagian orang memilih pergi ke pantai, gunung atau alam terbuka lainnya sebagai pilihan tempat favorit mereka. Sebagian lain ada yang memilih pergi ke kafe, konser musik atau diskotik sekalipun sebagai pilihannya. Namun bagi saya, pantai, laut, gunung, diskotik, kafe atau konser musik tidak terlalu menarik untuk dipakai sebagai tempat berlama-lama membunuh waktu. Apalagi untuk memulihkan 'mood' atau mengisi energi setelah beraktivitas.
Di Cipanas, tepatnya dibelakang pasar Cipanas (tak jauh dari rumah saya) ada sebuah tempat bertuah yang wajib saya sambangi minimal sebulan sekali. Tempat itu tak besar seperti kafe modern dengan musik disana-sini. Setahu saya, ukurannya hanya 4x5 meter saja. Dengan atap terbuka dan dikelilingi kios-kios sayuran disekelilingnya, membuat suasana dingin Cipanas semakin terasa disana.
Nama penjualnya sering saya panggil Dedi Balok, entah ini nama asli atau nama alias. Tapi sejak beberapa tahun saya kesini, begitulah saya dan teman-teman yang lain memanggilnya. Beliau menjual kue pancong dimulai dari jam 01:00 dini hari. Sebuah kepeloporan tanpa kompromi. Biasanya saya dan beberapa kawan sering berlama-lama disini. Memesan secangkir kopi panas atau susu hangat untuk dikombinasikan dengan kue pancong panas  yang baru saja diambil dari panggangan adalah hal paling sakral bagi saya. Suasana hening pasar jam 01:00 dini hari semakin membuat saya betah disana. Bermodal Rp.10.000-, saja perut sudah sangat dimanjakan. Karena harga satu potong kue pancong hanya Rp.1.000-, saja. Ukurannya seukuran 3 jari manusia dewasa dengan panjang sekira 10cm.

Terkadang jika datang sendiri, saya sengaja membawa buku bacaan yang agak 'berat' kesana. Entah kenapa, suasana hening dan kadang sayup suara Radio dari kios lain membuat 'mood' dan konsentrasi saya bagus. Setelah selama seharian penuh saya bertemu dengan banyak macam masalah dan segala tetek bengek keributannya,  rasanya 'mancong' sambil sesekali membaca buku adalah pilihan paling waras bagi saya sebagai pengisi energi (recharge) dan hiburan paling menyenangkan sekaligus menenangkan.
Jika datang bersama teman, kami sering berbincang ngalor-ngidul tentang apapun sesuka kami. Dari ekonomi, politik, budaya, agama sampai problematika cinta sama sekali sering mewarnai malam menjelang subuh kami disana. Ada rona yang tak biasa disana, yang tak semua tempat bisa memancarkannya sembarangan. Saya jarang sekali punya tempat favorit. Selain kamar, perpustakaan dan dulu studio musik tak ada yang bisa membuat saya bisa bertahan lama didalamnya.
Karena pada dasarnya setiap orang selalu membutuhkan kondisi dimana dirinya merasa rileks tanpa beban dan melupakan sejenak problematika kehidupan untuk sekedar menikmati manisnya hidup yang katanya singkat ini. Dan di tempat kue pancong inilah saya merasa seperti itu. Seberat apapun beban pikiran saya, ada dalam dekadensi atau bahkan demoralisasi, disana tak pernah saya merasakan semua itu. Walau saya tahu, ini hanya untuk sejenak belaka dan tak lama harus berjejalan kembali ke realitas nyata yang menjemukkan bersama dengan yang lain.

Sumber foto dari Instagram

Ramadhan Yang Perlu Diingat