Aku kini bak Sidarta, berkelana dengan papa
Menggenggam bara rindu yang kau tanam paksa di dada.
Mengalah bukan pilihanku, dia yang kau pilih Surti, tak jadi gentar aku karenanya.
Boleh jadi nanti kau kawin dan beranak-pinak dengannya.
Namun rinduku tak mau padam, hanya karena jejaknya yang kau paksakan padaku.
Barangkali kabar tentangmu masih menjadi buletin dalam benaku setiap hari.
Kau tahu betapa menyenangkan mengetahui kau akan kawin dengannya, ya menyenangkan Surti
Seperti elang yang menancapkan cakar di dada mangsa, akulah itu Surti. Akui
Tidak ada komentar:
Posting Komentar