Minggu, 11 Desember 2016

Bukan resensi buku: Jomblo Revolusioner

Judul: Jomblo Revolusioner
Penulis: Amrullah AM
Penerbit: Epistemic
Tahun terbit: September 2016
ISBN: 602-69503-3-8

Sedikit sinopsis dari buku ini:
"Jomblo Revolusioner berisi tentang semangat pergerakan, kisah unik dibalik rencana demonstrasi, hingga titik sunyi seorang jomblo yang jarang diketahui. Kita tahu, jomblo selalu identik dengan ratapan sedih dan kegagalan. Namun pada buku ini tak ada kisah cengeng semacam itu. Jomblo tidak dimaknai secara syariat sebagai kesendirian. Namun, dijabarkan secara luas sebagai hakikat kebebasan.
Secara umum, buku ini dibagi menjadi tiga bagian prasasti perjuangan. Itu meliputi bagian pertama, kedua dan ketiga. Bagian pertama berjudul Catatan Jomblo, berisi 19 kisah menarik yang menarik yang dikemas dalam sebuah catatan. Bagian kedua berjudul Secarik Pesan, berisi 12 surat kaleng tentang kegundahan hati aktivis pergerakan. Dan pada bagian ketiga, terdapat 6 permenungan yang dikemas dalam sebuah judul Semacam Renungan"

Sebelum saya ceritakan tentang isi buku ini, ada baiknya saya perkenalkan dahulu siapa penulis dibalik buku ini untuk yang belum tahu. Amrullah AM atau sering disapa Aam ini adalah seorang aktivis asal Tuban Jawa Timur, beliau adalah pengelola sekaligus pengurus perpustakaan Rumah Baca Bijaksana di Tuban. Pernah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dan Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Karena buku ini ditulis oleh seorang aktivis, tak pelak isi buku ini banyak berkisah tentang pergulatan seorang aktivis semasa penulis menjadi mahasiswa atau setelah lulus. Seperti kata penulis, ada sebagian dari tulisan dalam buku ini yang diambil dari blog pribadi si penulis yang sebelumnya pernah diunggah ke blog pribadinya. Didalamnya ada campuran jenis tulisan. Ada esai, cerita dan ada juga features. Ada sebuah esai yang membuat saya tersenyum sekaligus menangis di dalamnya. Esai itu berjudul "Biarkan mereka mati saja". Esai satir yang dibalut dengan bahasa yang njilemt namun tetap tak mengurangi kerenyahan ceritanya. Esai itu bercerita kurang lebih tentang penderitaan rakyat Indonesia yang sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di negeri yang dalam bahasa si penulis ijo royo-royo ini. Lalu ada ada lagi esai yang berjudul "Leba(y)ran" yang menggelitik sekaligus sebuah sindiran buat saya. Dimana esai itu bercerita tentang kebiasaan mengunggah foto di media sosial (termasuk kebiasaan memfoto makanan sebelum di makan lalu diunggah ke media sosial) yang sepertinya adalah kebiasaan kebanyakan anak muda hari ini. Lalu ada cerita tentang tiga serangkai Bari, Agus dan Ndemo yang ketiganya sudah meninggal ketika penulis menulis cerita tentang mereka bertiga akibat kecelakaan.
Ada banyak sekali cerita yang menarik dari buku ini. Beberapa telah saya ulas diatas. Kawan-kawan akan serasa diajak menyelami dunia aktivisme yang sunyi dan menggairahkan. Buku setebal 139 halaman ini wajib dibaca bagi kawan-kawan yang butuh referensi bacaan yang ringan namun dengan isi yang padat dan berkualitas.

Sabtu, 10 Desember 2016

Bukan resensi buku: Down and out in paris and london

Judul: Terbenam dan tersingkir di paris dan london
Penulis: George Orwell
Penerbit: Oak
Tahun terbit: 2015
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-60272536-0-5

Siapa yang tidak tahu George Orwell, sastrawan asal Inggris yang terkenal lewat novel klasik fenomenalnya yang berjudul Animal Farm. Selain Animal Farm, Orwell juga terkenal karena menulis novel "1984" yang tak kalah fenomenal dari Animal Farm. Walau banyak novel lain yang menurut saya juga tak kalah menarik dari dua novel diatas seperti salah satunya "Down and out in paris and london" yang sedang saya bahas ini.
Novel ini disadur dari pengalaman hidup Orwell ketika hidup miskin di Paris dan London setelah memutuskan berhenti menjadi polisi imperial Inggris di Burma tanpa persetujuan keluarganya. Novel yang syarat akan nilai-nilai moral dan agak sedikit satir ini cocok kiranya jadi whislist kawan-kawan. Kita akan diajak berkelana jauh ke paris dan london pada tahun-tahun 1930-an dengan berbagai dinamikanya. Di paris Orwell berteman dekat dengan seorang mantan tentara Rusia yang juga hidup miskin sepertinya. Boris, dia bertubuh tegap layaknya tentara pada umumnya adalah sahabat setia Orwell ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup di paris. Mereka rela berbagi ruang meski hidup mereka sangat miskin. Di london, Orwell bertemu dengan Paddy. Seorang gelandangan yang menjadi sahabat setia ketika menghadapi hari-hari tanpa pekerjaan di london. Ada Bozo, seorang teman Paddy yang bekerja sebagai pelukis jalanan atau screever dalam bahasa mereka. Seorang seniman ulung yang menurut Orwell dia tak pantas menjadi tunawisma karena kecerdasan intelektual yang dia miliki berbeda dari para gelandangan lain. Bozo juga menyimpan beberapa karya sastra terkenal yang tak semua gelandangan mempunyai passion seperti dirinya dalam hal seni. Dia mengajarkan banyak hal pada Orwell dan membuat Orwell kagum padanya. Walau begitu, mereka kadung di cap sebagai gelandangan monster yang dalam citra masyarakat adalah sebuah penyakit sosial yang akut. Namun dimata Orwell, gelandangan tidak melulu bercerita tentang mereka yang suka mencuri, pemerkosa, pemabuk dan cap buruk lainnya. Gelandangan dimata Orwell adalah seperti sebuah mobil yang berjalan di sisi kiri jalan, dia ada karena sebuah peraturan konyol. Disini yang membuat saya hanyut dalam plot novel ini. Sebuah pesan moral yang tak banyak penulis se-zaman Orwell tampilkan ke permukaan.
Kawan-kawan akan terenyuh sambil sesekali bertanya dalam hati "kok ada orang yang bisa hidup semiskin ini?". Harus berpindah dari satu Lodging House satu ke Lodging House lainnya dengan uang sewa yang kadang berebutan dengan uang tembakau, roti dan teh. Jangan pikirkan bagaimana Orwell hidup dengan seorang pendamping. Bisa makan saja sudah cukup di syukuri ketika hidup tanpa pekerjaan seperti itu.
Dan menariknya, Orwell selalu menyelipkan sebuah komentar-komentar dalam setiap bab-nya sebagai "pemanis" dalam novel ini. Berbeda dengan novel-novel zaman sekarang yang kebanyakan lebih mengedepankan konflik-konflik internal dalam novel untuk membuat pembaca terhanyut, namun novel ini berbeda. Orwell seperti sedang berkhutbah dalam novel ini dengan berbagai macam pesan moralnya namun dengan gaya sastra yang magis. Sehingga kita seperti sedang tak dikhotbahi ketika membacanya.
Selamat membaca !

Rabu, 07 Desember 2016

BACK TO RADIO

Di medio 2003-2005 ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tape adalah barang yang wajib ada disamping bantal dan guling. Sebelum Steve Jobs terkenal dengan iPhone-nya sekarang, radio adalah saluran alternatif terbaik untuk mencari informasi. Sudah lama kebiasaan itu saya tinggalkan karena sudah termasuk kegiatan kuno yang banyak tergantikan oleh perubahan zaman dan modernitas yang tak bisa dibendung lagi lewat smartphone-nya. Walau di smartphone ada fitur radio, namun rasanya aneh jika mendengarkan radio lewat smartphone. Apalagi smartphone bisa lebih lentur dalam mencari informasi dengan mengakses via google ketimbang lewat radio. Beberapa malam terakhir entah saya kesambet setan mana, saya iseng membuka fitur radio lagi dan mencoba mencari frekuensi yang cocok dengan selera saya. Awalnya aneh. Ada rona yang tak biasa di seisi ruangan kamar saya ketika radio mulai membahana disana. Perlahan namun pasti, saya mulai menikmati setiap detik momen itu. Frekuensi radio saya hentikan di chanel MORA FM. Chanel radio yang hingga saat ini sering diputar oleh kakek saya itu mengingatkan saya kembali pada suara khas sang penyiar yang lebih mirip monolog ketimbang siaran radio. Isinya tak lebih dari berita nasional dan domestik belaka. Namun cukup membuat nostalgia itu mengharu biru di seisi ruangan. Saya putar kembali ke chanel yang lain. Saya temui chanel radio yang sedang memutar lagu Peter Pan (yang sekarang menjadi Noah). Nostalgia itu terasa sempurna dengan alunan lagu "Menghapus Jejakmu". Dua nostalgia yang membuat saya memutar memori kembali ke tahun 2008-an yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saya putar lagi ke chanel yang lain. Saya dapati Wayang Golek sedang mengudara. Ingatan saya melayang kembali ke tahun 2010-an yang lalu. Di tahun itu saya terbiasa menghabiskan waktu bermain catur malam hari di pos kamling sambil mendengarkan Wayang Golek mengudara bersama seorang sahabat. Rasanya nostalgia itu tak hanya berakhir sampai disini. Banyak hal yang membuat saya ingat kembali tentang banyak hal dari sebuah radio. Mungkin kebiasaan ini akan saya hidupkan kembali. Mendengarkan radio sambil membaca buku lalu ditemani kopi hangat rasanya adalah pilihan paling logis ketimbang harus membuka akun-akun media sosial yang tak ada gunanya. Selain itu, kegiatan ini tak membutuhkan biaya terlalu banyak. Saya sarankan kepada kawan-kawan agar mencobanya kembali agar ingatan kita terawat tentang era keemasan Radio yang hari-hari ini sudah banyak ditinggalkan anak muda kebanyakan.

Kamis, 24 November 2016

Bukan Resensi Buku: Aku, buku dan sepotong sajak cinta

Judul: Aku, buku dan sepotong sajak cinta
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Scripta Manent
ISBN: 979-99561-3-1
Tahun terbit: Cetakan baru agustus 2016

Sudah lama saya ingin mengulas tentang buku yang satu ini. Namun karena berbagai kesibukan, beberapa kali sempat saya simpan di draft dan tak pernah rampung saya selesaikan. Malam ini saya kembali membacanya. Walau hanya beberapa bagian saya baca kembali, namun cukup membuat saya kembali merasa dihantarkan kedalam dunia si "Aku" yang serba penuh petualangan dengan buku itu. Tebak apa yang membuat saya begitu jauh hanyut dalam plot novel ini? Ya. Saya begitu terkesima oleh kehidupan si "Aku" dalam novel ini. Dia sosok sederhana yang begitu tergila-gila terhadap buku dan memutuskan untuk mencoba menulis agar bisa terus bertahan hidup dalam rinainya dunia perbukuan di Jogjakarta. Sebetulnya buku ini terilhami dari pengalaman pribadi si penulis yaitu Muhidin M. Dahlan. Namun Gus Muh (sapaan Muhidin) menyajikannya dengan lebih universal dan memasukan nama-nama samaran untuk beberapa tokoh yang hadir dalam buku ini. Jujur saja, ini buku yang membuat saya kembali ingin menulis dan membaca buku. Setelah beberapa tahun kegiatan tulis-menulis dan baca-membaca saya tertunda karena terlalu sibuk bekerja.

"Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya." Begitulah kira-kira seruan dari sebuah manifesto penuh dendam dari kekalahan nasib si "Aku" dalam buku ini yang membuat saya berkali-kali jatuh cinta terhadap buku ini. Banyak gaya penulisan yang saya pelajari dari buku ini yang saya tiru. Karena jujur saja, gaya semacam ini dangat mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Bahkan bagi mereka yang kurang memahami sastra sekalipun seperti saya. Konflik-konflik dalam buku tak terlalu membuat dahi berkerut. Dan satu hal lagi yang membuat saya suka dengan buku ini adalah; banyak kutipan para penulis besar maupun tokoh yang tak pernah saya temui sebelumnya. Nama-nama seperti Allan light, desiderius eramus, pramoedya ananta toer, tan malaka hingga jalaluddin rakhmat sesekali disebut dalam buku ini.


Seperti judul tulisan ini diatas, ini bukan sebuah resensi buku. Hanya sebuah ungkapan rasa kagum saya terhadap buku yang mampu membuat saya semakin gemar membaca kembali ini. Jadi selamat kecewa bagi kalian yang berharap saya mengulasnya secara mendetail dengan gaya peresensi senior yang mampu menyihir anda. Saya sarankan bagi kalian yang suka membaca novel fiksi, buku ini menjadi rekomendasi pertama saya. Apalagi bagi mereka yang haus akan buku yang kaya akan karya sastra, buku ini hadir kembali untuk mengisi kekosongan itu. Akhirul kalam. 

Sabtu, 19 November 2016

Basa-basi

Lama tak menulis. Bukan karena sibuk, namun hari-hari ini jari serasa kaku membabar kata demi kata dihadapan keyboard karena lama saya tak membaca buku. Imaji serasa kering jika tak dinutrisi vitamin pengetahuan. Mengakses internet pun jarang saya lakukan. Sekali lagi bukan karena sibuk, tapi malas kadung jadi teman setia setelah banyak waktu luang di cipanas.
Sudah berbulan jari ini tak menari dihadapan keyboard. Rasanya malu untuk menjentikkannya lagi, malu karena rindu terlanjur jadi gejah antara keyboard dan jari ini.
Hampir tiga minggu saya menetap kembali di cipanas setelah beberapa minggu lalu pulang dari tanah asing Tobelo. Banyak kisah yang ingin saya tulis menyoal kota itu. Namun energi saya banyak terkuras akhir-akhir ini untuk aktivitas yang lain ketimbang mengingat memori tentang Tobelo dan menuliskannya. Mungkin lain kali saya akan menuliskannya dalam sajak, esai atau sejenisnya jika saya mau. Karena saya tahu menulis tentang kota itu tak akan semudah mengerjakan PR anak kelas 1 SD. Tulisan ini hanya sebagai obat penat saya dalam menjalani hari yang lumayan berat setiap harinya, bukan sebuah catatan spesial karena sudah lama tak menulis. Walau sebenarnya ada banyak tulisan yang berjejal di draft yang belum selesai saya lanjutkan tentang banyak hal. Dan terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, mungkin nanti tulisan saya akan jarang ditemukan di internet. Bukan karena sombong atau sok misterius. Namun saya memang sedang banyak membaca buku akhir-akhir ini dan mengurangi aktivitas menulis saya. Karena saya rasa ada banyak sekali koreksi disana-sini dalam tulisan saya yang harus saya perbaiki. Akhirul kalam

Sabtu, 05 November 2016

Sebuah catatan pendek tentang perjalanan menuju halmahera utara (2)

Tepat pukul 07:04 pesawat yang saya tumpangi dari jakarta tiba di bandara Sultan Babulah Ternate. Sepanjang perjalanan udara itu saya enggan tidur. Mata tak bisa diajak kompromi. Saya hanya sesekali membaca buku dan kadang menerawang keluar jendela pesawat yang masih gulita. Sempat beberapa jam transit di Makassar namun pesawat dan kru-nya masih tetap sama. Penumpang pun tak banyak yang berubah.
Dipagi yang sudah terik itu ditengah kelelahan yang sangat saya sempatkan menyalakan handphone karena semenjak dipesawat sengaja saya matikan. Tak ada pesan baru atau apapun. Saya taruh dalam saku dan meluncur menuju orang-orang yang sibuk menawari tumpangan dari bandara. Seperti sebelumnya, terjadi percakapan alot soal harga yang cocok sebagai sewa yang akan disepakati. Saya enggan berdebat. Tak banyak bicara saya langsung sepakat saja dengan harga yang ditawarkan supir karena lelah kadung saya tahan. Saya menuju pelabuhan Ferry dengan 2 orang lain yang tak saya kenal dalam mobil. Hanya beberapa menit tak sampai setengah jam saya sudah tiba. Lapar membawa saya menuju warung nasi dengan menghambur.Walau dipesawat disediakan makanan sampai dua kali, namun nafsu makan saya sedang tak berselera. Saya pesan makanan sambil bertanya itu ini kepada si ibu penjual nasi. Karena baru kali ini saya masuk ke pelabuhan Ferry. Ada dua alternatif menuju sofifi sebenarnya; pertama memakai speedboat namun harganya sedikit mahal namun dengan waktu yang lebih efisien, kedua  ya memakai Ferry ini. Walau memakan waktu dua jam namun harga relatif murah untuk kelas ekonomi rendahan seperti saya; 23 ribu jika saya tidak salah harga untuk satu tiket dewasa.
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Ferry yang saya tunggu tiba. Segalanya bersicepat entah dengan apa. Semua orang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menuju lorong tempat Ferry bertengger.
Didalam kapal saya duduk dilantai kedua. Karena lantai paling bawah disediakan untuk kendaraan seperti truk hingga motor. Saya memilih lantai dua bukan tanpa alasan. Beban yang saya bawa sangat berat berkombinasi dengan lelah yang sejak tadi pagi bergelayut tak memungkin saya berjalan jauh. Apalagi setelah makan rasanya mata tak bisa dikompromi. Dalam situasi seperti itu rasanya saya menyesal membawa buku banyak-banyak. Namun di lain waktu, saya bersyukur bisa membawa banyak buku bacaan. Persis seperti ketika saya menunggu Ferry tiba, sempat saya bersyukur karena bisa membunuh kebosanan dengan membaca buku yang saya bawa. Saya pilih buku ringan saja. Journey-nya Danielle Steel sepertinya cocok menjadi pengisi energi kala dalam lambung kapal besi itu. Mata tak bisa lagi berkompromi. Saya tidur sejenak dan menutup buku. Perjalanan melelahkan ini rasanya tak habis-habis.
Setelah terbangun, dan kapal mulai bersandar di pelabuhan sofifi. Saya mengankat koper lalu turun ke dek paling bawah sambil menyeka mata yang setengah sadar. Saya mengira ini perjalanan Bogor-Banten yang hanya memakan waktu beberapa jam saja, namun sekali lagi saya salah. Saya segera menghambur bersama penumpang lain bersicepat menuju jalan keluar. Di pelabuhan saya tak banyak tingkah, memesan mobil ke arah tobelo lalu sambil menunggu penumpang lain yang hendak menuju tujuan yang sama sambil terus merapal lelah. Kira-kira butuh waktu 4 jam sebelum sampai di pondokan. Saya hanya sesekali tertidur dalam mobil karena tak kuasa menahan lelah. Walau buku saya pegang tapi tak sampai hati untuk membacanya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 WIT. Perjalanan molor beberapa jam seperti yang saya rencanakan karena beberapa hal. Tapi sudahlah. Saya berhenti tepat didepan jalan pondokan dan langsung menghambur masuk membuka kunci kedalam pondokan dan sejenak beristirahat sebelum mandi dan pergi solat magrib.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Saya dan buku

Belajar hidup kaya dalam kemiskinan
Belajar hidup sombong dalam kebersahajaan
Belajar hidup gembira dalam kesedihan

Usia saya belum genap dua puluh empat tahun. Untuk ukuran pemuda yang mulai beranjak dewasa seperti layaknya pemuda lain yang seumuran, saya bisa dikatakan gagal dalam proses bertumbuh. Bayangkan saja, teman-teman seusia saya sekarang minimal sudah mempunyai kendaraan roda dua hasil jerih payah mereka-entah itu dari menabung atau riba dengan mencicilnya-karena kalian tahu lah zaman sekarang ukuran sukses seseorang bisa dilihat dari seberapa banyak harta benda yang dia dapatkan dari hasil bekerja. Bukan hanya itu, untuk pemuda seumuran saya setidaknya sudah punya rencana untuk menikah dengan lawan jenis dan mulai menabung untuk pernikahan kelak. Sedangkan saya jangankan tabungan untuk bisa makan saja susahnya alang-kepalang. Karena bagi saya, bekerja hanya untuk bisa makan dan membeli buku. Itu saja tak lebih.
Saya tumbuh seperti layaknya kebanyakan remaja urban pinggiran kota lainnya yang dijejali hidup komsumtif a'la orang barat. Seperti rata-rata anak urban poor lainnya, saya hidup sebagai pekerja upahan selepas sekolah menengah atas selesai. Mengadu nasib di dunia industri sebagai buruh saya pernah mencecapnya. Menjadi seorang pramuniaga disebuah swalayan pun saya pernah menjalaninya. Menjadi seorang pencuci piring di hotel berbintang lima pun pernah saya rasakan. Menjadi pelayan disebuah taman hiburan pun tak pelak saya alami. Apalagi menjadi buruh kasar serabutan yang gajinya untuk makan pun tak cukup saya pernah merasakannya. Maklum lah pendidikan saya tak pernah mengizinkan saya untuk bisa setidaknya bekerja di depan komputer dengan AC selama 8 jam dan mendapat bonus bulanan jalan-jalan ke bali setiap bulan bersama bos tak pernah saya rasakan. Karena minimal untuk bisa bekerja seperti itu selain memerlukan ijazah yang lebih tinggi dari sekedar sekolah menengah atas juga membutuhkan keterampilan khusus lainnya. Atau setidaknya kita punya cara lain seperti cara koruptif dengan masuk lewat kenalan atau sejawat dalam perusahaan yang bisa memposisikan kita pada pekerjaan tersebut. Karena ini bumi bukan surga, semuanya masih bisa terjadi walau jalannya tak di ridhoi.
Karena saya tak lahir dari keluarga cendana yang hartanya tak habis walau dirayak tujuh turunan bersama-sama jadi selepas lulus dari sekolah menengah atas saya harus langsung mencari kerja. Jangan bayangkan harus berwirausaha, selain karena saya tak berbakat disana, pula karena berwirausaha harus berbekal modal yang mumpuni agar ditengah jalan tak rugi. Jangan pikirkan pula saya bisa memilih, karena selepas lulus dari sekolah menengah atas saya hanya punya dua pilihan; (1) rela jadi sampah masyarakat dengan menjadi seorang pengangguran yang harus kuat menanggung beban sosial karena hidup ditanggung orang tua (2) berkompetisi dengan ribuan orang yang juga baru lulus dari sekolah menengah atas mencari pekerjaan ditengah lapangan pekerjaan yang sangat minim dan selektif dalam memilih karyawan.
Jangan pikirkan pula untuk melanjutkan sekolah menjadi mahasiswa, dalam keluarga saya bisa makan saja bersyukurnya sudah tak kepalang, apalagi bisa melanjutkan sekolah ke tingkat berikutnya. Memang saya sempat mendapat kesempatan beasiswa di salah satu unversitas komputer terkemuka di Bandung. Namun saya urung meminangnya. Ya apalagi alasnnya kalau bukan karena biaya. Karena beasiswa itu hanya membebaskan saya dari biaya awal dan penyeleksian semata, bukan membiayai saya samapai khatam jadi sarjana.
Jadi saya memutuskan untuk mencari kerja saja agar bisa dapat uang untuk sekolah adik-adik saya dan makan orang tua saja tadinya. Karena saya sejak kecil sudah ditinggal bapak jadi mau tak mau selepas sekolah saya harus membiayai hidup keluarga.

Saya masih ingat dulu ketika saya pertama kali melamar kerja di sebuah swalayan di kota. Belum bekerja saja, saya sudah harus mengeluarkan uang untuk memenuhi tetek bengek persyaratan dari perusahaan. Alhasil karena kami keluarga tak punya, mencari pinjamanlah solusinya. Waktu itu saya sudah berhutang sekitar 500 ribu pada bibi saya untuk membeli segala persyaratan perusahaan hingga menyewa kontrakan selama training pra-kerja di kota. Belum juga diterima saya sudah harus menghabiskan rupiah sebanyak itu dengan harapan nanti setelah mendapatkan gaji dari hasil sebulan bekerja saya bisa menggantinya. Jangan tanya soal berapa gajinya, waktu itu menjadi seorang pelayan di swalayan gajinya tak lebih besar dari seorang buruh upahan dipabrik.
Saya memilih jalan bekerja jadi pelayan bukan tanpa alasan. Kakak saya yang lebih tua beberapa tahun dari saya sudah bekerja diperusahaan yang sama yang saya lamar hari itu lima tahun lebih awal. Dan katanya bekerja disana lebih "menyenangkan" ketimbang bekerja jadi buruh pabrik. Tak banyak pikir, saya langsung memilihnya dengan harapan saya bisa segera mendapat uang hasil jerih payah sendiri agar bisa membiaya band saya dan bisa membeli beberapa kaset dari band favorit saya waktu itu. Tak pernah terbesit untuk membeli buku secuil pun.

Dan sekarang setelah berbulan menjadi sampah masyarakat dengan menjadi pengangguran akhirnya saya mendapatkan pekerjaan kembali. Memang gajinya tak seberapa, hanya cukup untuk makan dan membeli buku. Itu saja cukup membuat saya bahagia tak keruan. Kawin? Ah rasanya belum ada pikiran sampai kesana hari ini. Walau ada seorang perempuan yang saya taksir namun rasanya saya tak pantas untuk dia. Mana mungkin perempuan cantik nan baik hati itu mau dengan saya yang miskin dan tak berpendidikan ini. Mau diberi makan apa nanti kalau sudah kawin? Tak mungkin juga kalau saya memberinya makan buku. Tak mungkin !!!

Ramadhan Yang Perlu Diingat