Sabtu, 05 November 2016

Sebuah catatan pendek tentang perjalanan menuju halmahera utara (2)

Tepat pukul 07:04 pesawat yang saya tumpangi dari jakarta tiba di bandara Sultan Babulah Ternate. Sepanjang perjalanan udara itu saya enggan tidur. Mata tak bisa diajak kompromi. Saya hanya sesekali membaca buku dan kadang menerawang keluar jendela pesawat yang masih gulita. Sempat beberapa jam transit di Makassar namun pesawat dan kru-nya masih tetap sama. Penumpang pun tak banyak yang berubah.
Dipagi yang sudah terik itu ditengah kelelahan yang sangat saya sempatkan menyalakan handphone karena semenjak dipesawat sengaja saya matikan. Tak ada pesan baru atau apapun. Saya taruh dalam saku dan meluncur menuju orang-orang yang sibuk menawari tumpangan dari bandara. Seperti sebelumnya, terjadi percakapan alot soal harga yang cocok sebagai sewa yang akan disepakati. Saya enggan berdebat. Tak banyak bicara saya langsung sepakat saja dengan harga yang ditawarkan supir karena lelah kadung saya tahan. Saya menuju pelabuhan Ferry dengan 2 orang lain yang tak saya kenal dalam mobil. Hanya beberapa menit tak sampai setengah jam saya sudah tiba. Lapar membawa saya menuju warung nasi dengan menghambur.Walau dipesawat disediakan makanan sampai dua kali, namun nafsu makan saya sedang tak berselera. Saya pesan makanan sambil bertanya itu ini kepada si ibu penjual nasi. Karena baru kali ini saya masuk ke pelabuhan Ferry. Ada dua alternatif menuju sofifi sebenarnya; pertama memakai speedboat namun harganya sedikit mahal namun dengan waktu yang lebih efisien, kedua  ya memakai Ferry ini. Walau memakan waktu dua jam namun harga relatif murah untuk kelas ekonomi rendahan seperti saya; 23 ribu jika saya tidak salah harga untuk satu tiket dewasa.
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Ferry yang saya tunggu tiba. Segalanya bersicepat entah dengan apa. Semua orang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menuju lorong tempat Ferry bertengger.
Didalam kapal saya duduk dilantai kedua. Karena lantai paling bawah disediakan untuk kendaraan seperti truk hingga motor. Saya memilih lantai dua bukan tanpa alasan. Beban yang saya bawa sangat berat berkombinasi dengan lelah yang sejak tadi pagi bergelayut tak memungkin saya berjalan jauh. Apalagi setelah makan rasanya mata tak bisa dikompromi. Dalam situasi seperti itu rasanya saya menyesal membawa buku banyak-banyak. Namun di lain waktu, saya bersyukur bisa membawa banyak buku bacaan. Persis seperti ketika saya menunggu Ferry tiba, sempat saya bersyukur karena bisa membunuh kebosanan dengan membaca buku yang saya bawa. Saya pilih buku ringan saja. Journey-nya Danielle Steel sepertinya cocok menjadi pengisi energi kala dalam lambung kapal besi itu. Mata tak bisa lagi berkompromi. Saya tidur sejenak dan menutup buku. Perjalanan melelahkan ini rasanya tak habis-habis.
Setelah terbangun, dan kapal mulai bersandar di pelabuhan sofifi. Saya mengankat koper lalu turun ke dek paling bawah sambil menyeka mata yang setengah sadar. Saya mengira ini perjalanan Bogor-Banten yang hanya memakan waktu beberapa jam saja, namun sekali lagi saya salah. Saya segera menghambur bersama penumpang lain bersicepat menuju jalan keluar. Di pelabuhan saya tak banyak tingkah, memesan mobil ke arah tobelo lalu sambil menunggu penumpang lain yang hendak menuju tujuan yang sama sambil terus merapal lelah. Kira-kira butuh waktu 4 jam sebelum sampai di pondokan. Saya hanya sesekali tertidur dalam mobil karena tak kuasa menahan lelah. Walau buku saya pegang tapi tak sampai hati untuk membacanya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 WIT. Perjalanan molor beberapa jam seperti yang saya rencanakan karena beberapa hal. Tapi sudahlah. Saya berhenti tepat didepan jalan pondokan dan langsung menghambur masuk membuka kunci kedalam pondokan dan sejenak beristirahat sebelum mandi dan pergi solat magrib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadhan Yang Perlu Diingat