Di medio 2003-2005 ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tape adalah barang yang wajib ada disamping bantal dan guling. Sebelum Steve Jobs terkenal dengan iPhone-nya sekarang, radio adalah saluran alternatif terbaik untuk mencari informasi. Sudah lama kebiasaan itu saya tinggalkan karena sudah termasuk kegiatan kuno yang banyak tergantikan oleh perubahan zaman dan modernitas yang tak bisa dibendung lagi lewat smartphone-nya. Walau di smartphone ada fitur radio, namun rasanya aneh jika mendengarkan radio lewat smartphone. Apalagi smartphone bisa lebih lentur dalam mencari informasi dengan mengakses via google ketimbang lewat radio. Beberapa malam terakhir entah saya kesambet setan mana, saya iseng membuka fitur radio lagi dan mencoba mencari frekuensi yang cocok dengan selera saya. Awalnya aneh. Ada rona yang tak biasa di seisi ruangan kamar saya ketika radio mulai membahana disana. Perlahan namun pasti, saya mulai menikmati setiap detik momen itu. Frekuensi radio saya hentikan di chanel MORA FM. Chanel radio yang hingga saat ini sering diputar oleh kakek saya itu mengingatkan saya kembali pada suara khas sang penyiar yang lebih mirip monolog ketimbang siaran radio. Isinya tak lebih dari berita nasional dan domestik belaka. Namun cukup membuat nostalgia itu mengharu biru di seisi ruangan. Saya putar kembali ke chanel yang lain. Saya temui chanel radio yang sedang memutar lagu Peter Pan (yang sekarang menjadi Noah). Nostalgia itu terasa sempurna dengan alunan lagu "Menghapus Jejakmu". Dua nostalgia yang membuat saya memutar memori kembali ke tahun 2008-an yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saya putar lagi ke chanel yang lain. Saya dapati Wayang Golek sedang mengudara. Ingatan saya melayang kembali ke tahun 2010-an yang lalu. Di tahun itu saya terbiasa menghabiskan waktu bermain catur malam hari di pos kamling sambil mendengarkan Wayang Golek mengudara bersama seorang sahabat. Rasanya nostalgia itu tak hanya berakhir sampai disini. Banyak hal yang membuat saya ingat kembali tentang banyak hal dari sebuah radio. Mungkin kebiasaan ini akan saya hidupkan kembali. Mendengarkan radio sambil membaca buku lalu ditemani kopi hangat rasanya adalah pilihan paling logis ketimbang harus membuka akun-akun media sosial yang tak ada gunanya. Selain itu, kegiatan ini tak membutuhkan biaya terlalu banyak. Saya sarankan kepada kawan-kawan agar mencobanya kembali agar ingatan kita terawat tentang era keemasan Radio yang hari-hari ini sudah banyak ditinggalkan anak muda kebanyakan.
Rabu, 07 Desember 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Di postingan sebelumnya saya pernah mengulas ihwal 10 lagu barat favorit saya, walau mengalami jeda yang lama, sekira hampir 1 tahun lebih u...
-
Judul: ABC Anarkisme-Anarkisme untuk pemula Penulis: Alexander Berkman Penerbit: Daun Malam Tahun terbit: 2017 ISBN: - Tebal: 254 halam...
-
Ini malam terakhir dibulan agustus. Saya sengaja membiarkannya terkesan merayap agar tak susah untuk saya ingat dihari depan nanti. Malam se...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar