Judul: Terbenam dan tersingkir di paris dan london
Penulis: George Orwell
Penerbit: Oak
Tahun terbit: 2015
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-60272536-0-5
Siapa yang tidak tahu George Orwell, sastrawan asal Inggris yang terkenal lewat novel klasik fenomenalnya yang berjudul Animal Farm. Selain Animal Farm, Orwell juga terkenal karena menulis novel "1984" yang tak kalah fenomenal dari Animal Farm. Walau banyak novel lain yang menurut saya juga tak kalah menarik dari dua novel diatas seperti salah satunya "Down and out in paris and london" yang sedang saya bahas ini.
Novel ini disadur dari pengalaman hidup Orwell ketika hidup miskin di Paris dan London setelah memutuskan berhenti menjadi polisi imperial Inggris di Burma tanpa persetujuan keluarganya. Novel yang syarat akan nilai-nilai moral dan agak sedikit satir ini cocok kiranya jadi whislist kawan-kawan. Kita akan diajak berkelana jauh ke paris dan london pada tahun-tahun 1930-an dengan berbagai dinamikanya. Di paris Orwell berteman dekat dengan seorang mantan tentara Rusia yang juga hidup miskin sepertinya. Boris, dia bertubuh tegap layaknya tentara pada umumnya adalah sahabat setia Orwell ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup di paris. Mereka rela berbagi ruang meski hidup mereka sangat miskin. Di london, Orwell bertemu dengan Paddy. Seorang gelandangan yang menjadi sahabat setia ketika menghadapi hari-hari tanpa pekerjaan di london. Ada Bozo, seorang teman Paddy yang bekerja sebagai pelukis jalanan atau screever dalam bahasa mereka. Seorang seniman ulung yang menurut Orwell dia tak pantas menjadi tunawisma karena kecerdasan intelektual yang dia miliki berbeda dari para gelandangan lain. Bozo juga menyimpan beberapa karya sastra terkenal yang tak semua gelandangan mempunyai passion seperti dirinya dalam hal seni. Dia mengajarkan banyak hal pada Orwell dan membuat Orwell kagum padanya. Walau begitu, mereka kadung di cap sebagai gelandangan monster yang dalam citra masyarakat adalah sebuah penyakit sosial yang akut. Namun dimata Orwell, gelandangan tidak melulu bercerita tentang mereka yang suka mencuri, pemerkosa, pemabuk dan cap buruk lainnya. Gelandangan dimata Orwell adalah seperti sebuah mobil yang berjalan di sisi kiri jalan, dia ada karena sebuah peraturan konyol. Disini yang membuat saya hanyut dalam plot novel ini. Sebuah pesan moral yang tak banyak penulis se-zaman Orwell tampilkan ke permukaan.
Kawan-kawan akan terenyuh sambil sesekali bertanya dalam hati "kok ada orang yang bisa hidup semiskin ini?". Harus berpindah dari satu Lodging House satu ke Lodging House lainnya dengan uang sewa yang kadang berebutan dengan uang tembakau, roti dan teh. Jangan pikirkan bagaimana Orwell hidup dengan seorang pendamping. Bisa makan saja sudah cukup di syukuri ketika hidup tanpa pekerjaan seperti itu.
Dan menariknya, Orwell selalu menyelipkan sebuah komentar-komentar dalam setiap bab-nya sebagai "pemanis" dalam novel ini. Berbeda dengan novel-novel zaman sekarang yang kebanyakan lebih mengedepankan konflik-konflik internal dalam novel untuk membuat pembaca terhanyut, namun novel ini berbeda. Orwell seperti sedang berkhutbah dalam novel ini dengan berbagai macam pesan moralnya namun dengan gaya sastra yang magis. Sehingga kita seperti sedang tak dikhotbahi ketika membacanya.
Selamat membaca !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar