Sabtu, 08 Oktober 2016

Saya dan buku

Belajar hidup kaya dalam kemiskinan
Belajar hidup sombong dalam kebersahajaan
Belajar hidup gembira dalam kesedihan

Usia saya belum genap dua puluh empat tahun. Untuk ukuran pemuda yang mulai beranjak dewasa seperti layaknya pemuda lain yang seumuran, saya bisa dikatakan gagal dalam proses bertumbuh. Bayangkan saja, teman-teman seusia saya sekarang minimal sudah mempunyai kendaraan roda dua hasil jerih payah mereka-entah itu dari menabung atau riba dengan mencicilnya-karena kalian tahu lah zaman sekarang ukuran sukses seseorang bisa dilihat dari seberapa banyak harta benda yang dia dapatkan dari hasil bekerja. Bukan hanya itu, untuk pemuda seumuran saya setidaknya sudah punya rencana untuk menikah dengan lawan jenis dan mulai menabung untuk pernikahan kelak. Sedangkan saya jangankan tabungan untuk bisa makan saja susahnya alang-kepalang. Karena bagi saya, bekerja hanya untuk bisa makan dan membeli buku. Itu saja tak lebih.
Saya tumbuh seperti layaknya kebanyakan remaja urban pinggiran kota lainnya yang dijejali hidup komsumtif a'la orang barat. Seperti rata-rata anak urban poor lainnya, saya hidup sebagai pekerja upahan selepas sekolah menengah atas selesai. Mengadu nasib di dunia industri sebagai buruh saya pernah mencecapnya. Menjadi seorang pramuniaga disebuah swalayan pun saya pernah menjalaninya. Menjadi seorang pencuci piring di hotel berbintang lima pun pernah saya rasakan. Menjadi pelayan disebuah taman hiburan pun tak pelak saya alami. Apalagi menjadi buruh kasar serabutan yang gajinya untuk makan pun tak cukup saya pernah merasakannya. Maklum lah pendidikan saya tak pernah mengizinkan saya untuk bisa setidaknya bekerja di depan komputer dengan AC selama 8 jam dan mendapat bonus bulanan jalan-jalan ke bali setiap bulan bersama bos tak pernah saya rasakan. Karena minimal untuk bisa bekerja seperti itu selain memerlukan ijazah yang lebih tinggi dari sekedar sekolah menengah atas juga membutuhkan keterampilan khusus lainnya. Atau setidaknya kita punya cara lain seperti cara koruptif dengan masuk lewat kenalan atau sejawat dalam perusahaan yang bisa memposisikan kita pada pekerjaan tersebut. Karena ini bumi bukan surga, semuanya masih bisa terjadi walau jalannya tak di ridhoi.
Karena saya tak lahir dari keluarga cendana yang hartanya tak habis walau dirayak tujuh turunan bersama-sama jadi selepas lulus dari sekolah menengah atas saya harus langsung mencari kerja. Jangan bayangkan harus berwirausaha, selain karena saya tak berbakat disana, pula karena berwirausaha harus berbekal modal yang mumpuni agar ditengah jalan tak rugi. Jangan pikirkan pula saya bisa memilih, karena selepas lulus dari sekolah menengah atas saya hanya punya dua pilihan; (1) rela jadi sampah masyarakat dengan menjadi seorang pengangguran yang harus kuat menanggung beban sosial karena hidup ditanggung orang tua (2) berkompetisi dengan ribuan orang yang juga baru lulus dari sekolah menengah atas mencari pekerjaan ditengah lapangan pekerjaan yang sangat minim dan selektif dalam memilih karyawan.
Jangan pikirkan pula untuk melanjutkan sekolah menjadi mahasiswa, dalam keluarga saya bisa makan saja bersyukurnya sudah tak kepalang, apalagi bisa melanjutkan sekolah ke tingkat berikutnya. Memang saya sempat mendapat kesempatan beasiswa di salah satu unversitas komputer terkemuka di Bandung. Namun saya urung meminangnya. Ya apalagi alasnnya kalau bukan karena biaya. Karena beasiswa itu hanya membebaskan saya dari biaya awal dan penyeleksian semata, bukan membiayai saya samapai khatam jadi sarjana.
Jadi saya memutuskan untuk mencari kerja saja agar bisa dapat uang untuk sekolah adik-adik saya dan makan orang tua saja tadinya. Karena saya sejak kecil sudah ditinggal bapak jadi mau tak mau selepas sekolah saya harus membiayai hidup keluarga.

Saya masih ingat dulu ketika saya pertama kali melamar kerja di sebuah swalayan di kota. Belum bekerja saja, saya sudah harus mengeluarkan uang untuk memenuhi tetek bengek persyaratan dari perusahaan. Alhasil karena kami keluarga tak punya, mencari pinjamanlah solusinya. Waktu itu saya sudah berhutang sekitar 500 ribu pada bibi saya untuk membeli segala persyaratan perusahaan hingga menyewa kontrakan selama training pra-kerja di kota. Belum juga diterima saya sudah harus menghabiskan rupiah sebanyak itu dengan harapan nanti setelah mendapatkan gaji dari hasil sebulan bekerja saya bisa menggantinya. Jangan tanya soal berapa gajinya, waktu itu menjadi seorang pelayan di swalayan gajinya tak lebih besar dari seorang buruh upahan dipabrik.
Saya memilih jalan bekerja jadi pelayan bukan tanpa alasan. Kakak saya yang lebih tua beberapa tahun dari saya sudah bekerja diperusahaan yang sama yang saya lamar hari itu lima tahun lebih awal. Dan katanya bekerja disana lebih "menyenangkan" ketimbang bekerja jadi buruh pabrik. Tak banyak pikir, saya langsung memilihnya dengan harapan saya bisa segera mendapat uang hasil jerih payah sendiri agar bisa membiaya band saya dan bisa membeli beberapa kaset dari band favorit saya waktu itu. Tak pernah terbesit untuk membeli buku secuil pun.

Dan sekarang setelah berbulan menjadi sampah masyarakat dengan menjadi pengangguran akhirnya saya mendapatkan pekerjaan kembali. Memang gajinya tak seberapa, hanya cukup untuk makan dan membeli buku. Itu saja cukup membuat saya bahagia tak keruan. Kawin? Ah rasanya belum ada pikiran sampai kesana hari ini. Walau ada seorang perempuan yang saya taksir namun rasanya saya tak pantas untuk dia. Mana mungkin perempuan cantik nan baik hati itu mau dengan saya yang miskin dan tak berpendidikan ini. Mau diberi makan apa nanti kalau sudah kawin? Tak mungkin juga kalau saya memberinya makan buku. Tak mungkin !!!

Sabtu, 01 Oktober 2016

Asep dan sepenggal cerita dari pesisir Halmahera

Namanya Tohir, namun saya lebih sering memanggilnya asep sebagai nama kunyah agar mudah dihapal. Dia berasal dari Garut, tepatnya dari daerah pamenungpeuk. Pesisir Jawa Barat yang terkenal dengan ke-eksotikan pantainya. Umurnya tak berbeda jauh dengan saya. Kira-kira dia baru menginjak 23 tahun. Wajahnya yang selalu menyunggingkan senyum mencerminkan watak asli Sunda pinggiran yang someah khas Jawa barat. Senyum itu bisa membuat meleleh wanita manapun yang melihatnya. Keramahan Asep menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Walau tampangnya tak terlalu tampan seperti artis korea, namun sudah bisa dipastikan dia termasuk pemuda yang baik. Saban hari dia selalu solat berjamaah di mesjid bersama saya. Walau sudah bertahun di Halmahera, Asep tetap tak kehilangan watak Sunda-nya yang khas ketika berbicara. Saya lupa kapan pertama kali berkenalan dengannya. Mungkin disatu hari pada pertengahan bulan di medio 2015. Kami belum lama bersahabat. Namun semangat egaliter dan solidaritasnya membuat saya salut pada Asep. Saya ingat ketika pada suatu malam ketika saya sedang sakit dan tak bisa keluar untuk membeli makan, dia rela berjalan kaki beberapa ratus meter mengantarkan makanan untuk saya. Karena diperantauan, saudara hanya mereka yang satu suku denganmu, lain tidak. Dia bekerja pada Mas Ali sebagai penjual mainan anak-anak. Setelah sebelumnya pernah berjualan batu akik ketika awal menginjakkan kakinya di halmahera. Waktu itu dia datang bersama dengan tetangga satu kapungnya dari Garut. Namun karena kesalahan teknis dan manajemen, asep memutuskan untuk mencari pekerjaan baru dan berakhir menjadi tukang mainan. Asep biasa menjajakan mainannya ke kampung-kampung seperti Galela dan Kao. Disana dia banyak mempunyai langganan. Dan dagangannya selalu laris. Dia bukan tipe pemuda seperti kebanyakan yang manja dan suka merengek pada orang tua jika punya keinginan. Asep adalah sebuah simbol keteguhan dan kerja keras yang berani mendobrak batas dengan pergi merantau dari kampungnya yang damai menuju pergulatan di kota orang untuk mencari nafkah. Dia berani merubah stereotype lama; bahwa orang sunda tak bisa merantau jauh dari kampung.
Hari-hari bersama asep membuat saya sadar tentang satu hal; bahwa saudara tak harus selalu bertalian darah. Dia banyak mengajarkan saya hal baru dan berguna di Halmahera. Dulu, jika kita sedang tak banyak pekerjaan kita selalu menghabisakn waktu dipinggir pantai belakang rumah dengan debat kusir tentang segala hal. Termasuk tentang kontroversi negara islam dan kewajiban berhijrah bagi seorang muslim yang sampai hari ini belum tuntas dibahas. Dihadapan kopi dan pisang lumpur biasanya kita tertawa terbahak menertawakan nasib kita berdua yang harus bertemu di timur jauh dan bekerja sebagai buruh upahan. Walau dia dibesarkan oleh tradisi pesantren yang disiplin, tak menghalangi kami untuk tetap bersahabat walau saya lahir dari tradisi jalanan dan dibesarkan oleh musik yang sepintas bertolak belakang dengannya. Toh perbedaan tak harus disamakan.
Setelah bertahun di Halmahera Asep memutuskan untuk pulang karena sejak datang dia tak pernah pulang sekalipun. Bahkan ketika Lebaran tiba dia hanya meratap sendiri di hadapan ketupat dan lalampa sambil sesekali menahan rindu.
Nanti jika kita sudah pulang ke kampung masing-masing kami berjanji untuk sesekali berkunjung untuk bersilaturahmi. Namun keinginan itu belum terwujud hingga saya menulis tentangnya hari ini. Sep semoga Alloh melindungimu dimanapun dan kapanpun. Alloh Maha Tahu Asep adalah satu diantara segelintir orang baik yang masih tetap konsisten memegang kebenaran ditengah alam kapitalisme hari-hari ini yang membuat orang semakin tamak menumpuk harta dan semakin individualistik.
Saya tak bisa membalas semua kebaikannya. Sehingga saya putuskan menulis tentangnya sebagai rasa terima kasih yang tak bisa saya ungkapkan langsung.

Cipanas 21 November 2016

Senin, 19 September 2016

BAHAGIA ITU RELATIF; Penyangkalan

Bagiku bahagia itu tak mudah. Bayangkan !! Kau harus rela menyisihkan uang hasil kerjamu selama berbulan lalu menyimpannya serapat mungkin agar kau tak tergoda untuk membelanjakannya untuk hal lain yang sebetulnya sama pentingnya dengan buku.
Selain harus memilah buku apa yang harus kau beli dengan harga yang cocok dengan sakumu, kau juga harus rela menahan godaan lapar ditengah malam ketika membaca buku karena uang makanmu sudah sedemikian rupa dipangkas untuk bisa membeli buku baru yang kau butuhkan.
Kau pernah bilang bahagia itu sederhana, tapi untukku tidak.
Kau bilang bahagia itu mudah, hanya dengan duduk diteras rumah, melamun dihadapan secangkir teh hangat dan makanan ringan sambil sesekali mengomentari hidup orang lewat sosial media saja. Tapi untukku tidak.
Bahagia itu relatif ! Tafsirnya memang mudah, namun realisasinya yang susah.
Kau bilang bahagia itu gampang. Tinggal duduk didepan televisi, bercengkrama dengan keluarga ihwal telenovela mana yang cocok dengan moodmu hari ini, sekali lagi untukku tidak.
Bahagia itu relatif. Kau harus belajar bahagia atau aku yang harus belajar bahagia?
Aku lapar kau suruh bahagia, aku terkantuk kau suruh bahagia, aku lemas kau suruh bahagia.
Satu lagi, bagiku bahagia iru relatif. Menadah air malam hari untuk mandi esok pagi karena esok pagi air dari perusahaan daerah tak selancar malam hari, kau sebut itu bahagia?
Bagiku bahagia itu relatif. Bisa saja aku kenyang namun tak kunjung bahagia karena tak ada buku baru tahun ini.
Jadi bahagia itu relatif !

Sabtu, 17 September 2016

AKU DAN IGAUAN-MU

Aku bertanya
Kau mengigau
Kau balik bertanya
Aku berguarau

Dimana akhir percakapan kita sebenarnya?
"Dari awal kau bicara" tukasnya
Kau tanya tentang aku,
Kujawab aku itu kamu

Kutanya "kau mengigau?"
Kau jawab "tidak tahu"
Kau tanya "aku mengigau?"
Kujawab "aku ini kau"

Dibibir pantai Indonesia timur, 2016

Jumat, 16 September 2016

Sajak untuk Surti (2)

Semua tetap sama seperti dulu
Aku yang malu-malu
Dalam diam memendam rindu
Juga tetap ingin tahu tentang kabarmu

Tapi sekarang aku punya cara baru
Cara baru mengutarakan rindu
Rindu yang sudah jadi bebal dan batu
Diam-diam memuisikanmu

Kukirim sajak dari ratusan mil jauhnya
Berharap angin menggelinding mengejawantahkannya
Atau laut sudi mengantarkannya kedepan rumahmu
Supaya rindu tak jadi bebal dan batu

Surti, jika nanti malam kau memimpikanku

Itu tanda dari sajak ku yang telah sampai didepan rumahmu


Dibibir pantai Indonesia timur 2016


MEMBACA BUKU DAN KESUNYIAN

MEMBACA BUKU

Siang itu saya bergegas menuju kantor pos untuk menjemput kiriman buku dari seorang teman di jogja. Ditengah terik matahari, mega yang menyeringai dan rasa penasaran akut saya berjalan dengan harapan buku yang saya pesan telah sampai dengan selamat. Karena sudah hampir 2 minggu buku pesanan saya itu tak jua datang. Siang itu sengaja saya memberanikan diri datang ke kantor pos. Namun kecewa alang-kepalang ternyata kantor pos tutup hari itu.
Dengan berjuta kecewa saya pulang dan tak sempat merapikan wajah yang kusut akibat perjalanan yang saya tempuh dari rumah ke kantor pos yang lumayan sangat jauh itu.
Beberapa minggu lalu saya memesan buku berjudul Aku, buku dan sepotong sajak cinta karya penulis favorit saya Muhidin M Dahlan. Besar harapan saya agar buku itu dapat langsung saya santap hari itu. Namun takdir berkata lain. Mungkin ada beberapa masalah teknis sehingga buku yang saya pesan belum sampai, saya ber-husnudzon saja.

Beberapa tahun lalu, saya sama sekali tak suka membaca. Walau banyak buku yang saya punya dan ada beberapa hadiah dari orang-orang tertentu. Namun membaca buku adalah hal yang sangat jarang saya lakukan waktu itu. Bukan hanya karena membaca adalah hal membosankan, juga karena hobi saya waktu itu masih lebih menyenangkan ketimbang membaca buku; bermain musik.
Namun perlahan ketika keadaan menyeret saya pada suatu kondisi dimana musik menjadi sangat membosankan dan kebutuhan terhadap informasi sangat mendesak sehingga saya terpaksa harus rajin membaca buku sebagai penghilang kebosanan, pelipur lara juga alasan berlawan.
Karena membaca adalah batu penjuru dari edukasi, dan edukasi adalah hal paling vital dalam aktivisme maka dari itu saya rela mengahabiskan waktu hanya untuk membaca.
Selain menghabiskan waktu, membaca buku juga kadang memiskinkan. Maklum lah saya hanya seorang buruh upahan yang penghasilannya untuk makanpun masih pas-pasan. Jadi saya harus rela membagi uang hasil kerjaan saya dengan ratusan kebutuhan lainnya. Menabungnya dengan harapan jika ada buku yang diinginkan nanti saya bisa langsung memesannya.
Juga ada alasan lain yang membuat saya jadi sedikit gemar membaca akhir-akhir ini.
Karena handphone yang saya punya waktu itu tak memungkinkan mengakses berbagai informasi dengan lancar, makanya saya hanya bisa mencari alternatif informasi dengan bentuk tulisan. Harus dimaklumi sekali lagi handphone saya tak bisa dengan cepat mengakses video dan berbagai audio visual lainnya sedangkan kebutuhan akan ilmu dan informasi membuat hasrat keingin-tahuan saya semakin tinggi. Jadi alternatif terbaik waktu itu hanyalah dengan membaca.
Akhirnya kecintaan saya terhadap membaca tumbuh sedikit demi sedikit seperti layaknya ABG yang baru jatuh cinta pada lawan jenisnya.

KESUNYIAN

Saya memang orang yang jarang bersosial dengan banyak orang. Menghabiskan banyak waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul tentang hal yang tak jelas membuat saya tak nyaman.
Maka dari itu saya memilih berjarak dengan khlayak agar terhindar dari sindrom-sindrom obrolan basa-basi yang tak jelas juntrungnya.
Saya lebih memilih mengahabiskan waktu sendirian dengan membaca buku atau artikel-artikel pendek sebagai pengisi waktu senggang.
Begitu pun di halmahera ini, sepulang dari bekerja saya lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku sendirian ditengah keheningan malam agar suasana hati kembali memancarkan rona dari keterasingan personal seperti lazimnya seorang jomblo lainnya.
Rasanya ada korelasi yang selaras antara kesunyian dan membaca buku. Dua hal tersebut sepertinya sudah ditakdirkan untuk tetap bertemu.
Bagi orang-orang yang menyandang penyakit kesepian akut seperti saya, membaca ditengah keheningan malam adalah hal yang paling membahagiakan ditengah-tengah dunia yang menyedihkan ini.
Saya rasa itulah alasan kenapa banyak dari para jomblo sejati seperti Tan Malaka dan William Sheakspear bisa membuat banyak buku; mereka lebih menyukai kesunyian dan membaca buku dariapada harus mengahabiskan waktu dengan lawan jenis yang tak ada gunanya.
Membaca ditengah malam sepulang bekerja memang bukan hal mudah, selain harus menahan rasa kantuk yang menggila diujung pelupuk mata juga waktu-waktu seperti itu sangat sulit saya dapatkan dimana kita harus berselaras dengan heningnya malam dan tetap berusaha fokus ditengah ingatan-ingatan tentang pekerjaan yang menuntut keseriusan esok harinya.
Tapi beruntunglah karena saya adalah orang yang sedikit dapat bertahan walau hanya beberapa jam dengan membaca buku ditengah heningnya malam seperti itu.
Hingga sekarang saya tak tahu akan berakhir sampai kapan hobi saya ini. Mungkin 2 sampai 3 tahun kedepan akan ada hobi baru yang menggerus hobi lama saya ini. Atau mungkin akan tetap bertahan walau sedikit demi sedikit harga buku sudah mulai melambung akhir-akhir ini dan saya akan segera mengakhirinya lalu mencari hobi yang sedikit murahan agar dapat tetap membunuh kebosanan dan memiliki passion ditengah dunia yang hiruk-pikuk ini. Entahlah . . . . Hanya Tuhan yang tahu.

Kamis, 15 September 2016

Bukan Resensi buku: Going Home-tambatan hati

Jika tidak salah saya sudah 2 kali membaca novel lawas ini dan tak pernah merasa bosan.
Awalnya hanya iseng pengisi waktu saja. Tapi setelah hanyut terbawa plot, ternyata buku setebal 409 halaman ini mampu membuat saya menangis dan tertawa sendiri.
Seperti semua novel Danielle Steel lainnya, Going Home bercerita tentang seorang wanita karir bernama Gillian Forester yang hidup menjanda bersama seorang anaknya bernama Samantha ditengah hiruk-pikuk kota New York yang liar dan gila.
Lika-liku asmara yang dibumbui dengan roman ala sastrawan perancis yang romantis namun dengan kemasan bahasa yang lugas dan mudah dicerna pembaca awam seperti saya membuat novel ini seakan membawa kita berada ditengah-tengah konflik yang dialami oleh si Gillian.
Alur ceritanya yang sedikit kompleks awalnya membuat saya merasa bosan.
Namun ditengah-tengah cerita yang mulai monotone tiba-tiba muncul sedikit dinamika yang menurut saya aneh namun malah semakin membuat novel ini tetap harus dibaca.
Pemetaan karakter yang terperikan lewat plot yang mudah ini lah Danielle Steel membuat saya jatuh cinta berkali-kali pada novel ini.
Kita bisa langsung tahu karakter seperti apa yang akan muncul mengisi alur ceritanya hanya dengan sekali membaca. Maklum lah saya adalah salah satu orang yang sering gagal fokus. Jadi novel ini cocok sekali untuk pembaca awam yang kurang suka membaca novel-novel serius seperti penulis novel fiksi zaman sekarang.
Dengan setting yang sederhana disebuah kota kecil di California dan beberapa tempat di New York semakin membuat novel ini wajib dibaca untuk kalian yang suka seri novela.
Namun saya sempat merasa kesal karena Gillian harus bertemu dengan pria brengsek seperti Chris Matthews dalam novel ini. Chris yang brengsek namun romantis dengan caranya sendiri digambarkan oleh Danielle lewat gestur yang berbeda dari novel-novelnya yang lain. Dia sukses membuat karakter Chris menjadi seorang tokoh protagonis dan antagonis secara bersamaan. Seperti malaikat-setan dalam satu tubuh.
Ada banyak kejadian tak terduga di dalamnya yang membuat saya lagi-lagi harus merasakan memungut tisue banyak-banyak. Untuk sebuah novel serapan bahasa asing, novel ini tak banyak menyajikan bahasa yang rumit. Tak ada metafor didalamnya untuk membuat kagum para pembaca. Alurnya juga cair mudah ditangkap oleh pembaca awam manapun, sehingga pantas buat saya mudah terhanyut oleh novel ini walau sudah berkali membacanya.
Rekomendasi sekali untuk kalian yang bosan dengan novel-novel kontemporer hari ini yang melulu hanya menceritakan roman ala remaja ingusan yang ujung ceritanya sudah dapat dipastikan.

Ramadhan Yang Perlu Diingat