Namanya Tohir, namun saya lebih sering memanggilnya asep sebagai nama kunyah agar mudah dihapal. Dia berasal dari Garut, tepatnya dari daerah pamenungpeuk. Pesisir Jawa Barat yang terkenal dengan ke-eksotikan pantainya. Umurnya tak berbeda jauh dengan saya. Kira-kira dia baru menginjak 23 tahun. Wajahnya yang selalu menyunggingkan senyum mencerminkan watak asli Sunda pinggiran yang someah khas Jawa barat. Senyum itu bisa membuat meleleh wanita manapun yang melihatnya. Keramahan Asep menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Walau tampangnya tak terlalu tampan seperti artis korea, namun sudah bisa dipastikan dia termasuk pemuda yang baik. Saban hari dia selalu solat berjamaah di mesjid bersama saya. Walau sudah bertahun di Halmahera, Asep tetap tak kehilangan watak Sunda-nya yang khas ketika berbicara. Saya lupa kapan pertama kali berkenalan dengannya. Mungkin disatu hari pada pertengahan bulan di medio 2015. Kami belum lama bersahabat. Namun semangat egaliter dan solidaritasnya membuat saya salut pada Asep. Saya ingat ketika pada suatu malam ketika saya sedang sakit dan tak bisa keluar untuk membeli makan, dia rela berjalan kaki beberapa ratus meter mengantarkan makanan untuk saya. Karena diperantauan, saudara hanya mereka yang satu suku denganmu, lain tidak. Dia bekerja pada Mas Ali sebagai penjual mainan anak-anak. Setelah sebelumnya pernah berjualan batu akik ketika awal menginjakkan kakinya di halmahera. Waktu itu dia datang bersama dengan tetangga satu kapungnya dari Garut. Namun karena kesalahan teknis dan manajemen, asep memutuskan untuk mencari pekerjaan baru dan berakhir menjadi tukang mainan. Asep biasa menjajakan mainannya ke kampung-kampung seperti Galela dan Kao. Disana dia banyak mempunyai langganan. Dan dagangannya selalu laris. Dia bukan tipe pemuda seperti kebanyakan yang manja dan suka merengek pada orang tua jika punya keinginan. Asep adalah sebuah simbol keteguhan dan kerja keras yang berani mendobrak batas dengan pergi merantau dari kampungnya yang damai menuju pergulatan di kota orang untuk mencari nafkah. Dia berani merubah stereotype lama; bahwa orang sunda tak bisa merantau jauh dari kampung.
Hari-hari bersama asep membuat saya sadar tentang satu hal; bahwa saudara tak harus selalu bertalian darah. Dia banyak mengajarkan saya hal baru dan berguna di Halmahera. Dulu, jika kita sedang tak banyak pekerjaan kita selalu menghabisakn waktu dipinggir pantai belakang rumah dengan debat kusir tentang segala hal. Termasuk tentang kontroversi negara islam dan kewajiban berhijrah bagi seorang muslim yang sampai hari ini belum tuntas dibahas. Dihadapan kopi dan pisang lumpur biasanya kita tertawa terbahak menertawakan nasib kita berdua yang harus bertemu di timur jauh dan bekerja sebagai buruh upahan. Walau dia dibesarkan oleh tradisi pesantren yang disiplin, tak menghalangi kami untuk tetap bersahabat walau saya lahir dari tradisi jalanan dan dibesarkan oleh musik yang sepintas bertolak belakang dengannya. Toh perbedaan tak harus disamakan.
Setelah bertahun di Halmahera Asep memutuskan untuk pulang karena sejak datang dia tak pernah pulang sekalipun. Bahkan ketika Lebaran tiba dia hanya meratap sendiri di hadapan ketupat dan lalampa sambil sesekali menahan rindu.
Nanti jika kita sudah pulang ke kampung masing-masing kami berjanji untuk sesekali berkunjung untuk bersilaturahmi. Namun keinginan itu belum terwujud hingga saya menulis tentangnya hari ini. Sep semoga Alloh melindungimu dimanapun dan kapanpun. Alloh Maha Tahu Asep adalah satu diantara segelintir orang baik yang masih tetap konsisten memegang kebenaran ditengah alam kapitalisme hari-hari ini yang membuat orang semakin tamak menumpuk harta dan semakin individualistik.
Saya tak bisa membalas semua kebaikannya. Sehingga saya putuskan menulis tentangnya sebagai rasa terima kasih yang tak bisa saya ungkapkan langsung.
Cipanas 21 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar