Malam itu langit agak bersahabat dari malam-malam sebelumnya. Hujan tak kunjung turun dicipanas. Biasanya hujan selalu merusak mood saya untuk beraktifitas. Tapi kali itu berbeda. Walau hujan tak kunjung turun, mood saya kacau balau. Setelah dihantam jam kerja yang lumayan mengerikan menguras tenaga, janji rapat konsolidasi bersama kawan-kawan tak kunjung terealisasi. Saya urungkun niat untuk bertemu kawan-kawan malam itu.
Setelah turun dari angkutan umum, saya bergegas menghambur tak teratur menuju rumah seorang kawan. Disana semua saya keluarkan unek-unek yang sedari bulan lalu berjejalan rapi dengan strategi politik, omong kosong busuk dan tetek bengek sejenis agar tak jadi gejah dikemudian hari. Kawan saya yang satu ini agak mengerti kenapa saya tiba-tiba uring-uringan tak jelas seperti ini. Dia sudah hapal betul bagaimana tabiat saya jika sedang banyak pikiran. Ia tak banyak menimpali, hanya satu-dua "ya" dan "tidak" untuk menjawabnya. Dia tahu betul saya tak butuh jawaban apapun selain butuh didengarkan.
Kesimpulan saya malam itu cetek, saya hanya terlalu berharap lebih pada apapun selain diri saya sendiri. Dari mulai rapat konsolidasi hingga pertemuan-pertemuan lain yang tak terealisasi, semua bermuara pada ego saya yang terlalu tinggi memaksakan harapan saya pada orang lain. Sehingga berujung pada keterpaksaan pada orang lain. Malam jahannam itu berakhir dengan satu-dua gelas kopi dengan obrolan menggantung seperti biasanya.
Setelah ngalor-ngidul soal ini itu, saya putuskan pulang.
Saya sadar, pulang pun tak akan jadi solusi final untuk masalah-masalah yang kadung membuat kepala saya semakin botak ini. Dirumah, saya hanya tinggal berdua dengan adik laki-laki saya. Lantas ketika pulang, tak aneh jika mesin penanak nasi sialan itu isinya kosong melompong tak bisa dipakai untuk mengisi perut yang lapar ini. Saya menggerutu sejadi-jadinya. Hewan berkaki empat sudah berkali-kali keluar dari mulut saya sedari awal saya sampai dirumah. Dalam hati saya menggerutu, "kenapa hidup saya harus se-brengsek ini sekarang". Sambil menghambur membuka sepatu, saya masuk kedalam kamar saya yang bau tengiknya tak bisa ditolerir lagi itu.
Setelah banyak harapan yang hilang jadi buih hari itu, saya jadi teringat album Snicker and The Chiken Fighter di tahun 2017 lalu. Saya memutarnya berulang kali sambil membuka-buka kembali buku God Delusion karya si Dawkins itu. Setidaknya hari itu masih bisa diselamatkan oleh beberapa lagu Snicker, buku si Dawkins dan secangkir kopi instan. Walau jelas perut saya sedari turun dari angkutan umum masih terus berbunyi tak bisa dikompromi selain harus diisi.
Tak apalah, ujarku dalam hati. Yang penting mulutku masih bisa berasap dan menyeruput kopi 2 ribu perak itu ditemani dengan musik dan bacaan yang berkualitas ini. Peduli setan mereka yang selama ini selalu saya harapkan tapi tak pernah bisa diharapkan. Bila perlu, saya bisa hidup tanpa bantuan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar