Entah ini malam keberapa ratus saya nangkring di depan layar smartphone jadul ini, menghabiskan waktu sempit seusai kerja dengan membaca tulisan-tulisan usang tentang puisi, frase dan esai yang kurang bermanfaat. Entah alasan apa yang saya pilih untuk tetap menulis walaupun tak se-intens dulu kala monitor masih sebesar wajan penggorengan telur ceplok hingga saat ini berubah menjadi layar seuprit seperti upil kucing di samudera atlantik.
Meski saya tahu dimana pelabuhan tulisan saya nantinya berlabuh jika bukan draft atau tong sampah yang berjejal dengan sengkarut argumen basi, siasat politik dan teori usang tentang penetrasi kapitalisme-nya Dede Mulyanto.
Maklum lah saya memang bukan seorang terpelajar atau akademisi yang dicetak untuk bisa menulis dengan baritone-baritone ala hip-hop yang mirip rima kausa pembangkit passion anak muda posmo dipinggiran kali ciliwung. Jadi maaf jika tulisan ini akhirnya malah menjadi sampah dibuang dipungut. Tidak seperti tulisan inspiratif lainnya dipojokan berkualitas seperti para mahasiswa, tulisan ini hanya seebagai penghilang jenuh belaka atau lebih mirip obat antimo diperjalanan Garut-Jakarta yang seringnya hanya pengganjal mual belaka. Lagi pula awalnya blog ini saya buat bukan untuk berbagi informasi seperti layaknya media sosial saya lainnya yang sering saya gunakan untuk berbagi sesuatu yang saya sukai seperti musik, aktivisme dan perspektif personal lainnya.
Jika Anda masih tetap mambaca tulisan ini, maka saya ucapkan selamat kecewa !!!!
Apa pasal ??? Ini bukan tulisan informatif sejenis koran atau newsletter, ini hanya sebuah ungkapan kekesalan saya selama menjalani hiruk-pikuk dunia ini yang mungkin kalian sudah tahu akan berkahir dimana nantinya tulisan ini.
Juga bukan esai intelegensia layaknya tulisan Martin Suryajaya di kolom logika-nya IndoProgress yang bisa membuat si pembaca terkagum karena bahasa yang digunakan hampir mirip tulisannya Karl Marx yang sering menggunakan istilah-istilah seperti ontologis, historis, kontemporer, absurditas, objektif dan kawan-kawannya yang untuk orang non-akademisi seperti saya cukup membuat pusing dan harus membacanya berbarengan dengan kamus ilmiah populer.
Dan kemungkinan lain dari alasan saya menulis tulisan ini adalah karena sebuah predikat yang menempel selama beberapa tahun terakhir ini; Jomblo !
Bagi seorang yang tidak pernah punya lawan bicara-di dunia maya atau realita-seperti saya ini, menulis menjadi pilihan paling logis ketika mayoritas remaja seumuran saya menghabiskan waktu bersama pasangan mereka masing-masing (resmi maupun tidak resmi).
Mungkin karena alasan absurd itu juga saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku atau sekedar esai-esai pendek jika memang jaringan internet mengizinkan saya untuk mencarinya dibelantara khazanah dunia maya akhir-akhir ini.
Tulisan yang ditulis tengah malam ini sudah sepantasnya saya akhiri karena seperti yang saya utarakan diawal tadi bahwa tulisan ini tidak penting sama sekali dan pula karena waktu terus merangkak tanpa disadari makin membuat waktu istirahat saya yang seuprit upil kucing terus berkurang.
Wassalam.
PS: Karena dijudulnya ada subtitle "Ngalor-ngidul chapter 1 maka saya harap dilain hari saya bisa menulis tulisan tak berguna seperti ini lagi secara continue hahahaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar